Akuntansi Entitas Pengembang Properti

Akuntansi Entitas Pengembang Properti

DAFTAR ISI:


Akuntansi Persediaan dan Properti Investasi (Perusahaan Properti)

Komponen Persediaan dan Properti Investasi, terdiri dari:


1. Persediaan:

    a. Tanah (tersedia untuk dijual)

    b. Real Estate:

         i. Apartement:

            a. Barang Dalam Proses

            b. Barang Jadi

        ii. Perumahan:

            a. Barang Dalam Proses

            b. Barang Jadi

       iii. Ruko:

            a. Barang Dalam Proses

            b. Barang Jadi

       iv. Rukan:

            a. Barang Dalam Proses

            b. Barang Jadi


2. Properti Investasi:

    a. Tanah (belum dikembangkan)

    b. Tanah dan Bangunan

         (disewakan):

          i. Gedung

         ii. Gudang

        iii. Villa

        iv. Hotel

         v. Ruko

     c. Jalan Tol


Catatan:

#. Pada properti investasi, tanah tidak disusutkan kecuali bangunan.


#. Berdasarkan PSAK 13, Properti investasi adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua - duanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau lessor melalui sewa pembiayaan) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai atau keduanya, dan tidak untuk:


(a) Digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administratif, atau

(b) Dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.


#. Properti investasi diakui sebagai aset jika dan hanya jika:


(a) Besar kemungkinan manfaat ekonomis masa depan yang terkait dengan properti investasi akan mengalir ke entitas, dan

(b) Biaya perolehan properti investasi dapat diukur secara andal. Properti investasi pada awalnya diukur sebesar biaya perolehan. Biaya transaksi termasuk dalam pengukuran awal tersebut.


#. Penentuan Harga Pokok Tanah dan Bangunan (HPTB) Berdasarkan Metode Full Costing.


Dalam penentuan harga pokok produksi terdapat dua metode penentuan yakni metode full costing dan variable costing. Metode full costing terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja langsung dan biaya overhead (variable maupun tetap). Sedangkan metode variable costing sama perhitungannya dengan full costing namun tanpa diikuti biaya overhead tetap.


Menurut perilakunya ada dua golongan biaya overhead produksi yakni overhead tetap dan variable. Biaya overhead tetap ialah biaya yang tidak berubah meskipun terjadi perubahan dalam volume produksi. Contoh dari biaya overhead pabrik tetap ini ialah beban depresiasi mesin, gaji penyelia atau pengawas yang bersifat tetap. Biaya overhead variable ialah biaya overhead produksi yang berubah sebanding dengan volume kegiatannya. Salah satu contoh biaya overhead produksi variable ialah paku, cat dan bahan yang melekat langsung pada produk namun hanya sekian persen saja digunakan dalam produk.


#. Pendapatan dan Beban Deviasi Tangguhan dalam Standard Costing (Harga Pokok Standar).


A. Standard Cost (Biaya Standar) adalah biaya yang ditentukan di muka yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya untuk membuat satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu dengan asumsi kondisi ekonomi, efisiensi dan faktor- faktor lain dalam keadaan normal.


B. Harga  Pokok Standard (Standard Costing) adalah pembebanan harga pokok kepada produk atau jasa tertentu yang ditentukan di muka dengan cara menentukan besarnya biaya standar dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik untuk mengolah satu satuan produk atau jasa tertentu.


Pada dasarnya di dalam Harga Pokok Standar terdiri dari tiga aktivitas yaitu :


(1) Penentuan Standar.

(2) Pengumpulan biaya yang sesungguhnya terjadi.

(3) Analisis selisih biaya standar dengan biaya sesungguhnya.


Harga Pokok Standar dalam produksi, terdiri dari:


1. Biaya Bahan Baku Standar.

   a. Harga bahan baku standar.

   b. Kuantitas bahan baku standar.

2. Biaya Tenaga Kerja Langsung Standar.

    a. Tarif upah langsung standar.

    b. Jam kerja langsung standar.

3. Tarif Biaya Overhead Pabrik Standar.


Jurnal Penjualan Rumah dengan Perhitungan Standar Biaya:


Dr - Bank/Piutang

        Usaha  xxx

Cr -     Penjualan Rumah  xxx


Dr - Harga Pokok

        Standar (Cost of

        Standard) Rumah   xxx

Cr -     Persediaan:

            b. Real Estate:

                 ii. Perumahan:

                     b. Barang Jadi   xxx


Formula menghitung Harga Pokok Penjualan atau Harga Pokok Tanah dan Bangunan untuk entitas properti dan manufaktur lainnya:


Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold) = Harga Pokok Produk + Harga Pokok Standar (Cost of Standard) + Beban Deviasi Tangguhan - Pendapatan Deviasi Tangguhan

………

Back to Content ↑

Format Laporan Laba Rugi Entitas Properti dan Industri Manufaktur:

A. Pendapatan Operasional:

     - Penjualan Barang                  xxx

B. Harga Pokok Penjualan:

     - Harga Pokok Produk  xxx

     - Harga Pokok Standar xxx

     - Beban Deviasi

       Tangguhan                    xxx

     - Pendapatan Deviasi

       Tangguhan                   (xxx)

                                             ———

    Total Harga Pokok

    Penjualan                                   (xxx)

                                                         ———

    Total Laba Kotor                         xxx


Catatan:

#. Harga Pokok Produk adalah komponen dari harga pokok penjualan barang di mana perhitungannya tidak menggunakan biaya standar, tetapi berdasarkan biaya aktual yang terjadi dan telah dibebankan ke dalam setiap item persediaan barang jadi yang sebelumnya masih menggunakan biaya standar (Dr - Barang Jadi (Actual Cost), Cr - Barang Jadi (Standard Cost)) dari hasil perhitungan deviasi, yaitu berdasarkan porsi barang yang belum terjual.


Proses Actual Costing:

Dr - Barang Jadi

        (Actual Cost)  xxx

Cr -      Barang Jadi

             (Standard Cost)  xxx


Dr/Cr - Pendapatan Deviasi

             Tangguhan   xxx

Dr/Cr - Beban Deviasi

             Tangguhan   xxx

Cr/Dr -     Barang Jadi

                 (Actual Cost)  xxx


Proses Penjualan:

Dr - Kas/Bank/

        Piutang Usaha  xxx

Cr -     Penjualan Barang  xxx


Dr - Harga Pokok

        Produk  xxx

Cr -     Barang Jadi

            (Actual Cost)  xxx


#. Biaya Standar (Standar Cost) diposting pada saat beberapa unit barang selesai diproduksi dari ‘Barang Dalam Proses’ ke ‘Barang Jadi’ hingga seratus persen sesuai dengan target produksi.


C. Deviasi (Deviations) adalah penyimpangan biaya standar (biaya langsung dan tidak langsung) terhadap biaya aktual yang terjadi, yang ditentukan dengan menghitung biaya bahan baku dan penolong yang telah digunakan, serta upah langsung dan tidak langsung yang telah dibayarkan. Jika terdapat nilai sisa bahan atau pembayaran upah yang lebih kecil dari estimasi (misalnya lembur) maka dijadikan ‘Aset Deviasi’, sebaliknya jika terdapat kekurangan bahan baku dan penolong serta upah (tidak diestimasi sebelumnya) yang masih harus dibayar maka diperlukan biaya tambahan untuk dijadikan ‘Beban Deviasi Tangguhan’ sesuai porsi penjualan yang terjadi.


D. Standar Biaya Penyimpangan (Standard Deviation Cost) adalah batas maksimal penyimpangan biaya yang ditentukan di muka antara standar biaya dari suatu produk dan jasa terhadap biaya aktual yang akan terjadi, guna memprediksi biaya maksimal yang dibutuhkan untuk membuat suatu produk dan jasa.


E. Pendapatan Deviasi Tangguhan adalah selisih lebih (positif) antara biaya standar (standard cost) yang telah ditentukan terhadap biaya aktual yang terjadi, di mana biaya standar yang telah dibebankan dalam suatu masa pembukuan lebih besar dari biaya aktual setelah terjadinya aktivitas penjualan.


Jurnal Pendapatan Deviasi Tangguhan - Selain Bahan Baku dan Penolong:


Dr - Barang Dalam Proses -

        Standard Cost Biaya

        Langsung dan

        Tidak Langsung

        Selain Bahan Baku

        dan Penolong   xxx

Cr -     Pendapatan Deviasi

            Tangguhan -

            Selisih Positif

            Standard Cost        xxx

Cr -     Bank/Kas/

            Beban Akrual         xxx


Jurnal Pendapatan Deviasi Tangguhan - Selisih Positif Stock Opname Bahan Baku dan Penolong:


Dr - Aset Deviasi -

        Bahan Baku dan

        Penolong  xxx

Cr -     Pendapatan Deviasi

            Tangguhan -

            Selisih Positif

            Stock Opname  xxx


Catatan:

#. Pengakuan Pendapatan Deviasi Tangguhan yang berasal dari bahan baku dan penolong terjadi jika hasil stock opname positif.

#. Pendapatan Deviasi Tangguhan merupakan objek PPh Pasal 17 yang belum diperhitungkan sebelumnya. Sedangkan Beban Deviasi Tangguhan adalah pengurang dari laba fiskal yang belum dibebankan sebelumnya. Hal ini terjadi jika biaya aktual belum selesai diperhitungkan pada tahun sebelumnya.

#. Aset Deviasi merupakan komponen biaya langsung dan tidak langsung khususnya upah langsung yang distandarkan berlebihan serta bahan baku dan penolong yang tidak digunakan dalam proses produksi atau proyek.


Jurnal pemulihan atas komponen ‘Aset Deviasi’ yang berupa material dan bahan penolong yang tidak digunakan, dilakukan jika proyek atau produksi selanjutnya dilakukan:


Dr - Barang Dalam

        Proses -

        BDP Awal  xxx

Cr -     Aset Deviasi -

            Material dan

            bahan penolong  xxx


F. Beban Deviasi Tangguhan adalah selisih kurang (negatif) antara biaya standar (standard cost) yang telah ditentukan terhadap biaya aktual yang terjadi, di mana biaya standar yang telah dibebankan dalam suatu masa pembukuan lebih kecil dari yang seharusnya.


Jurnal Beban Deviasi Tangguhan:

Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan  -

        Bahan baku, bahan

        penolong, dan upah

        langsung   xxx

Cr -     Kas/Bank/

            Bahan Baku/

            Bahan Penolong/

            Liabilitas Deviasi   xxx


Pendapatan dan Beban Deviasi Tangguhan terjadi karena standar biaya dari suatu proyek atau produksi barang telah dibebankan dalam perhitungan laba rugi periode atau masa sebelumnya akibat aktivitas penjualan, sebelum biaya aktual secara keseluruhan selesai diperhitungkan. Jika aktivitas penjualan belum terjadi, selisih (penyimpangan) yang menjadi pendapatan atau biaya tersebut dapat menjadi penambah atau pengurang dari harga pokok produk dalam persediaan barang jadi.


Dan hasil dari perhitungan deviasi tersebut dijadikan ukuran dalam menentukan standar biaya selanjutnya (khususnya material dan bahan penolong yang akan digunakan). Sedangkan upah lembur tenaga kerja langsung dan tidak langsung, serta biaya overhead variable lainnya (seperti rek. listrik, air, telp pabrik, dan lainnya) sulit untuk diprediksi dan selalu menyimpang dari standar yang ditetapkan dan dijadikan ‘Beban Deviasi Tangguhan’.


Dalam hal produk dijual sebagian, maka beban dan pendapatan deviasi tangguhan tersebut dihitung sesuai porsi produk yang telah terjual, sisanya menjadi persediaan barang jadi.


#. Jurnal atas Beban Deviasi Tangguhan (asumsi: 100%):


Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan  xxx

Cr -     Bahan Baku/

            Bahan Penolong/

            Liabilitas Deviasi/

            Kas/Bank -

            Pembelian bahan baku dan

            penolong, upah lembur

            tenaga kerja langsung  xxx


Jurnal atas porsi produk yang belum terjual (asumsi: 80%):


Dr - Barang

        Jadi  xxx

Cr -     Beban Deviasi

            Tangguhan  xxx


Catatan:

#. 20% menjadi ‘Beban Deviasi Tangguhan’, 80% mejadi ‘Harga Pokok Produk’ dalam persediaan barang jadi.

#. Liabilitas Deviasi adalah hutang pembelian bahan baku dan penolong yang terjadi karena penyimpangan atau selisih negatif antara biaya aktual dengan biaya standar yang telah ditetapkan, termasuk penambahan upah tenaga kerja langsung yang masih harus dibayar.


#. Jurnal Pendapatan Deviasi Tangguhan (asumsi: 100%):


Dr - Aset Deviasi -

        Bahan Baku dan

        Bahan Penolong  xxx

Cr -      Pendapatan Deviasi

             Tangguhan -

             Selisih Positif

             Stock Opname    xxx


#. Jurnal pengurangan ‘Harga Pokok Standar’ dalam persediaan barang jadi yang belum terjual (asumsi: 80%):


Dr - Pendapatan Deviasi

        Tangguhan  xxx

Cr -     Barang Jadi   xxx


Catatan: 20% menjadi ‘Pendapatan Deviasi Tangguhan’, 80% menjadi pengurang ‘Harga Pokok Standar’ dalam persediaan  barang jadi.


Analisa beberapa kemungkinan penyebab terjadinya deviasi terhadap standar biaya yang telah ditetapkan dan pengaruhnya terhadap pajak:


A. Penyimpangan kuantitas dan kualitas (quantity and quality deviations):

1. Standar kuantitas produk (material dan bahan penolong) yang ditetapkan salah, hal ini dapat dibebankan secara fiskal jika jumlah material yang dibutuhkan dinilai kurang dari standar yang ditetapkan untuk membuat suatu barang dan jasa. Sebaliknya jika volume material berlebihan dari standar yang ditetapkan (material tidak digunakan), maka tidak dapat dibebankan secara fiskal dan menjadi ‘Pendapatan Deviasi Tangguhan’ jika standar biaya telah dibebankan karena aktivitas penjualan.


2. Kualitas material di bawah standar, yang menyebabkan timbulnya biaya penyimpangan untuk mengganti material yang lebih baik. Beban deviasi ini tidak dapat diakui secara fiskal, serta tidak dapat diperhitungkan dalam harga pokok produk ataupun proyek, karena kesalahan dalam menentukan kualitas dari material merupakan penghamburan (material tidak dapat digunakan).


Yang membedakan antara ‘Beban Deviasi’ dan ‘Beban Deviasi Tangguhan’ adalah ‘Beban Deviasi’ merupakan penghamburan biaya karena usangnya atau di bawah standarnya kualitas dari material, sedangkan ‘Beban Deviasi Tangguhan’ adalah selisih kurang (negatif) yang ditangguhkan antara biaya standar (standard cost) yang telah ditentukan terhadap biaya aktual yang terjadi, di mana biaya standar yang telah dibebankan dalam suatu masa pembukuan lebih kecil dari yang seharusnya. Maka ‘Beban Deviasi’ merupakan rekonsiliasi fiskal positif, sedangkan ‘Beban Deviasi Tangguhan’ merupakan biaya yang dapat dibebankan secara fiskal.


3. Timbulnya kerugian akibat hilangnya material yang telah diperhitungkan dalam standar biaya merupakan beban deviasi bagi entitas.


B. Penyimpangan harga (price deviations):

1. Terdapat pergantian supplier atas material dan bahan penolong yang memberikan harga yang lebih baik, dan biaya standar dari produk telah dibebankan dengan perhitungan harga sebelumnya. Penyimpangan harga diperhitungkan sebagai ‘Pendapatan Deviasi Tangguhan’.


2. Pembelian material dan bahan penolong dalam skala besar, di mana diskon menjadi penyimpangan atas biaya standar yang telah dibebankan.


3. Harga pembelian standar berubah, di mana terdapat kenaikan harga dari material dan bahan penolong yang telah dibeli. Dan adanya upah tenaga kerja langsung yang belum diperhitungkan dalam biaya standar yang telah dibebankan. Penyimpangan ini diperhitungkan sebagai ‘Beban Deviasi Tangguhan’.


C. Penyimpangan lainnya:

1. Kondisi kerja yang tidak memadai, seperti kurangnya mesin atau peralatan yang harus dibeli, yang menimbulkan beban penyusutan tambahan dalam overhead tetap.


2. Timbulnya biaya perawatan akibat kerusakan peralatan dan mesin produksi (manufaktur) yang menjadi biaya tambahan dalam overhead variable, sepanjang dapat dibuktikan bisa dibebankan secara fiskal.


3. Kerja overtime (lembur) yang tidak diestimasi, yang menimbulkan upah tambahan.


4. Pengurangan atau penambahan upah penyelia (overhead tetap) dan tenaga kerja langsung (overhead variable) akibat salah estimasi atau ketentuan minimum yang telah berubah.


G. Laporan Harga Pokok Proyek adalah laporan tentang biaya aktual yang terjadi, yang terdiri dari komponen barang dalam proses awal, ditambah dengan harga pokok tanah dan harga pokok bangunan (biaya langsung dan tidak langsung), serta beban deviasi tangguhan dan dikurang dengan pendapatan deviasi tangguhan, untuk menghasilkan nilai dalam persediaan barang jadi berdasarkan kuantitas yang ditargetkan pada setiap itemnya.


Nilai Barang Dalam Proses (BDP) akhir dihitung dengan melakukan stock opname atas material dan bahan penolong per unit produk, misalnya tipe rumah dengan nama unit ‘Azalea (69/84)’ yang ditargetkan diproduksi sebanyak 50 unit. Sisa bahan baku dan penolong dikumpulkan dan dihitung nilainya setelah selesai diproduksi. Juga rumah dengan tipe lainnya, sehingga dapat diketahui harga pokok produk per unitnya. Dan kemudian dijadikan ‘Aset Deviasi’ dengan lawan pos ‘Pendapatan Deviasi Tangguhan’.


Sedangkan deviasi atas upah tenaga kerja langsung dan tidak langsung dihitung berdasarkan biaya aktual yang dikeluarkan dengan standar biaya yang telah ditetapkan.

………

Back to Content ↑

Format ‘Laporan Harga Pokok Proyek - Properti’:

Harga Pokok Proyek:

A. Barang Dalam Proses (BDP) Awal

     = Aset Deviasi


B. Harga Pokok Tanah

C. Harga Pokok Bangunan:

     1. Biaya Langsung:

         1.1. Material

         1.2. Upah Langsung

         Total Biaya Langsung (1.1 + 1.2 + 1.3)

     2. Biaya Tidak Langsung:

          2.1. Infrastruktur

                  2.1.1. Material

                  2.1.2. Bahan Penolong

                  2.1.3. Upah Tidak Langsung

                 Total Biaya Infrastruktur

                  (2.1.1 + 2.1.2 + 2.1.3)

          2.2. Biaya Overhead:

                  2.2.1. Overhead Tetap:

                  2.2.1.1. Gaji Penyelia (Pengawas)

                  2.2.2. Overhead Variable:

                  2.2.2.1. Bahan Penolong

        Total Biaya Tidak Langsung

        (2.1 + 2.2)

        Total Harga Pokok Bangunan

        (1 + 2)


D. Barang Dalam Proses (BDP) Berjalan 

     (A + B + C)

E. Beban Deviasi Tangguhan:

    E.1. Upah Lembur

    E.2. Lainnya (Bersifat Tidak Tetap)

F. Pendapatan Deviasi Tangguhan:

    F.1. Barang Dalam Proses (BDP) Akhir 

           = (stock opname)

    F.2. Selisih Positif Lainnya

G. Harga Pokok Proyek = (D + E - F)

H. Harga Pokok Produk (COGS) Per Unit

I. Harga Pokok Standar (COS) Per Unit


H. Laporan Harga Pokok Produksi adalah laporan tentang biaya aktual yang terjadi, yang terdiri dari komponen barang dalam proses awal, ditambah dengan biaya langsung dan tidak langsung, serta beban deviasi tangguhan, dan dikurang dengan pendapatan deviasi tangguhan untuk menghasilkan nilai dalam persediaan barang jadi berdasarkan kuantitas yang ditargetkan pada setiap itemnya.


Nilai Barang Dalam Proses (BDP) Akhir terdiri dari barang setengah jadi, sisa bahan baku dan penolong yang ditentukan nilainya juga dengan stock opname untuk setiap unit produk. Sehingga Harga Pokok Produksi per unit produk dapat ditentukan. Nilai Barang Dalam Proses (BDP) Akhir akan menjadi ‘Aset Deviasi’. Untuk produksi selanjutnya, maka Aset Deviasi dijadikan ‘Barang Dalam Proses’ Awal (Dr - Barang Dalam Proses, Cr - Aset Deviasi).

………

Back to Content ↑

Format ‘Laporan Harga Pokok Produksi - Industri Lainnya’:

Harga Pokok Produksi:

A.  Barang Dalam Proses (BDP) Awal

      = Aset Deviasi


B.  Biaya Langsung:

      1. Material:

      1.1.  Persediaan Bahan Baku Awal

      1.2. Pembelian Bahan Baku

      1.3. Biaya Angkut                     

      1.4. Retur Pembelian             

      1.5. Total Persediaan Bahan Baku

             (1.1 + 1.2 + 1.3 - 1.4)

      1.6. Total Persediaan Bahan

             Baku Akhir (stock opname)

      1.7. Total Pemakaian Material

              (1.5 - 1.6)

      2. Upah Langsung

          Total Biaya Langsung (1 + 2)

C. Biaya Tidak Langsung:

     1. Biaya Overhead Tetap:

         1.1. Beban Depresiasi Bangunan Pabrik

         1.2. Beban Depresiasi Mesin dan Peralatan Pabrik

         1.3. Beban Gaji Penyelia (Pengawas)

         1.4. Beban Asuransi Staff Produksi

         1.5. Lainnya (Bersifat Tetap)

                Total Overhead Tetap

                (1.1 + 1.2 + 1.3 + 1.4 + 1.5)

    2. Biaya Overhead Variable:

        2.1. Bahan Penolong 

        Total Biaya Tidak Langsung

        (1 + 2)


D. Barang Dalam Proses (BDP)

     Berjalan = (A + B + C)

E. Beban Deviasi Tangguhan

    E.1. Beban Rekening Listrik,

           Telp dan Air Pabrik

    E.2. Upah Lembur

    E.3. Lainnya (Bersifat Tidak Tetap)

F. Pendapatan Deviasi Tangguhan

    F.1. Barang Dalam Proses (BDP)

           Akhir = (stock opname)

    F.2. Selisih Positif Lainnya

G. Harga Pokok Produksi = (D + E - F)

H. Harga Pokok Produk (COGS) Per Unit

I. Harga Pokok Standar (COS) Per Unit


Catatan: Untuk memudahkan dalam menghitung harga pokok produksi per unit produk, dapat dibuat Laporan Harga Pokok Produksi Per Unit Produk atau Per Departemen Produk, sebelum dibuat Laporan Harga Pokok Produksi Konsolidasi.

………

Back to Content ↑

Ilustrasi:

Ilustrasi 1: Pembelian Lahan

PT. Properti Land Indonesia, membeli tanah seluas 6.000 m2 dengan tujuan untuk dijual kembali di daerah Serpong - Tangerang dengan rincian sbb:


Harga Pokok Tanah (Tersedia untuk dijual):

A. Perolehan Lahan seluas 6.000 m2:

A.1. Pembelian Tanah sebesar Rp. 1.500.000.000.

A.2. Legal dan Notaris sebesar Rp. 30.000.000.

A.3. Sertifikat Lahan sebesar Rp. 50.000.000.

A.4. Pajak sebesar Rp. 40.000.000.


Sub Total A = Rp. 1.650.000.000

HPT Sub A = Rp. 275.000 / m2 

(Rp. 1.650.000.000/6.000 m2)


B. Desain dan Perijinan:

B.1. Desain Arsitektur dan Sipil sebesar Rp. 10.000.000.

B.2. Perizinan Pemda sebesar Rp. 60.000.000.

B.3. Perizinan Kantor BPN sebesar Rp. 20.000.000.


Sub Total B = Rp. 90.000.000

HPT Sub B = Rp. 15.000 / m2

(Rp. 90.000.000/6.000 m2)


C. Pematangan Lahan:

C.1. Infrastruktur sebesar Rp. 420.000.000.

C.2. Utilitas sebesar Rp. 115.000.000.

C.3. Fasum/Fasos sebesar Rp. 275.000.000.

C.4. Perawatan dan Sosial Lingkungan sebesar Rp. 90.000.000.


Sub Total C Rp. 900.000.000

HPT Sub C Rp. 150.000 / m2

(Rp. 900.000.000/6.000 m2)


D.  Biaya Lainnya:

D.1. Apraisal dan Pembuatan Neraca sebesar Rp. 15.000.000.

D.2. Biaya Tenaga Kerja Langsung sebesar Rp. 360.000.000.


Sub Total D = Rp. 375.000.000

HPT Sub Total D = Rp. 62.500

(Rp. 375.000.000/6.000 m2)


Rekapitulasi:

A. Perolehan Lahan sebesar Rp. 275.000.

B. Desain dan Perijinan sebesar Rp. 15.000.

C. Pematangan Lahan sebesar Rp. 150.000.

D. Biaya Lainnya sebesar Rp. 62.500.


Harga Pokok Tanah/m2 = Rp. 502.500

Total HPT = 3.015.000.000

 (Rp. 502.500 x 6.000 m2)

Target Laba/m2 = Rp. 372.500

Harga Jual Tanah seluas/m2 = Rp. 875.000


Jurnal Penyelesaian:

Jurnal Pembelian Lahan:


Dr - Persediaan:

        a. Tanah (tersedia untuk dijual)

             Harga Lahan Tanah -

             Kawasan

             Serpong   1.500.000.000

Cr -     Bank -

            Pembelian lahan tanah

            di Serpong    1.500.000.000


Dr - Persediaan:

        a. Tanah (tersedia untuk dijual) -

             Legal dan Notaris untuk

             tanah di Serpong   30.000.000

Cr -     Bank -

            Pembayaran

            Legal dan Notaris        30.000.000


dst ...


Jurnal Penjualan Tanah Secara Tunai, kepada Pihak Ketiga:


Dr - Bank -

        Penjualan tanah

        di Serpong   5.250.000.000

Cr -     Penjualan Tanah -

            Kawasan

            Serpong          5.250.000.000

        

Dr - Harga Pokok Tanah -

        Kawasan Serpong     3.015.000.000

Cr -     Persedian:

            a. Tanah (tersedia untuk dijual) -

                 Kawasan Serpong    3.015.000.000


Jurnal Penjualan Tanah secara Kredit kepada Pihak Ketiga, Asumsi:


Jangka Waktu Kredit = 12 bulan

Bunga Kredit Pertahun = 11% 

Total Angsuran Bunga Pertahun = 

Rp. 577.500.000

Angsuran Pokok/Bulan =

Rp. 437.500.000

Angsuran Bunga/Bulan =

Rp. 48.125.000

Total Angsuran/Bulan =

Rp. 485.625.000

Total Pendapatan =

Rp. 5.250.000.000 + Rp. 577.500.000 = 

Rp. 5.827.500.000


Dr - Piutang Usaha -

        Harga Pokok Tanah

        di Serpong      5.250.000.000

Dr - Piutang Usaha -

        Pendapatan Bunga Kredit

        Ditangguhkan   577.500.000

Cr -    Penjualan

           Tanah                        5.250.000.000

Cr -    Utang Jangka Pendek -

           Pendapatan Bunga

           Ditangguhkan           577.500.000

        

Dr - Harga Pokok Penjualan -

        Harga Pokok Tanah -

        Kawasan Serpong  3.015.000.000

Cr -    Persedian:

           a. Tanah (tersedia untuk dijual) -

                Kawasan Serpong    3.015.000.000


Pembayaran Angsuran 1:


Dr - Bank     485.625.000

Cr -     Piutang Usaha -

            Harga Pokok

            Tanah              437.500.000

Cr -     Pendapatan bunga kredit -

            Angsuran

            Bunga (ke-1)     48.125.000


Amortisasi Pendapatan Bunga Ditangguhkan:


Dr - Utang Jangka Pendek -

        Pendapatan Bunga

        Ditangguhkan  48.125.000

Cr -     Piutang Usaha -

            Pendapatan Bunga Kredit

            Ditangguhkan      48.125.000


Dst ..


Atau jika pendapatan diakui berdasarkan nilai pembayaran angsuran yang diterima, jurnalnya: —————


Dr - Piutang Usaha -

        Penjualan

        Tanah      5.827.500.000

Cr -    Utang Jangka Pendek -

           Pendapatan Yang Masih 

           Harus Diterima - 

           Penjualan Kredit 

           Tanah                       5.250.000.000

Cr -    Utang Jangka Pendek -

           Pendapatan Bunga

           Ditangguhkan           577.500.000

        

Dr - Aset Lainnya - 

        Beban Dibayar Di muka -

        Harga Pokok Tanah 

        Kawasan Serpong  3.015.000.000

Cr -    Persedian:

           a. Tanah (tersedia untuk dijual) -

                Kawasan Serpong    3.015.000.000


Catatan:

Jika jangka waktu kredit kurang atau sama dengan 1 tahun, maka Pendapatan Yang Masih Harus Diterima masuk dalam kategori Utang Jangka Pendek, sebaliknya jika jangka waktu kredit lebih dari 1 tahun, maka Pendapatan Yang Masih Harus Diterima masuk dalam kategori Utang Jangka Panjang.


Pembayaran Angsuran 1:


Dr - Bank     485.625.000

Cr -     Piutang Usaha -

            Penjualan Tanah    485.625.000


Amortisasi Pendapatan Yang Masih Harus Diterima, Bunga Ditangguhkan dan Beban Dibayar Di muka:


Pendapatan Yang Masih Harus Diterima dan Pendapatan Bunga Ditangguhkan:

Dr - Utang Jangka Pendek -

        Pendapatan Yang Masih 

        Harus Diterima - 

        Penjualan Kredit 

        Tanah               437.500.000

Dr - Utang Jangka Pendek -

        Pendapatan Bunga

        Ditangguhkan  48.125.000

Cr -      Pendapatan -

             Penjualan Tanah  485.625.000


Beban Dibayar Di muka:

Amortisasi Beban Dibayar Di muka Per bulan =

Rp. 3.015.000.000/12 bulan =

Rp. 251.250.000


Dr - Harga Pokok Penjualan -

        Harga Pokok Tanah -

        Kawasan Serpong  251.250.000

Cr -     Aset Lainnya - 

            Beban Dibayar Di muka -

            Harga Pokok Tanah 

            Kawasan Serpong      251.250.000


Dst ..

………

Back to Content ↑

Ilustrasi 2: Pengembangan Lahan

PT. Properti Land Indonesia memiliki tanah yang belum dikembangkan seluas 26.500 m2 (2.65 hektare) dengan tujuan investasi (untuk dijual kembali di masa yang akan datang) dengan harga Rp. 600.000/m2 di kawasan Karawaci - Tangerang. Pada 5 Mei 2018, dengan berbagai pertimbangan tanah tersebut diputuskan akan dijadikan pengembangan perumahan real estate dengan nama proyek ‘The Royal Park Karawaci’ yang akan mulai dibangun pada tanggal 1 Juli 2018 sampai dengan akhir Desember 2018, di mana akan dibangun rumah dengan nama dan tipe sebagai berikut:


#. Nama Unit: Azalea 69/84, Luas Tanah: 84 m2, Luas Bangunan 69 m2. Total: 50 Unit, Total Luas Tanah: 4.200 m2.


#. Nama Unit: Bougenville 44/75, Luas Tanah: 75 m2, Luas Bangunan 44 m2. Total: 100 Unit, Total Luas Tanah: 7.500 m2.


#. Nama Unit: Rose 42/72, Luas Tanah: 72 m2, Luas Bangunan 42 m2. Total : 100 Unit, Total Luas Tanah: 7.200 m2.


#. Infrastruktur: Playground: 1.800 m2, Kolam Renang: 2.000 m2, Jalan: 3.000 m2, Musholla: 140 m2, Badminton Arena: 300 m2, Mini Market: 180 m2, Jogging Track: 180 m2.


#. Total Luas Tanah = 26.500 m2

(4.200 m2 + 7.500 m2 + 7.200 m2 + 1.800 m2 + 2.000 m2 + 3.000 m2 + 140 m2 + 300 m2 + 180 m2 + 180 m2).

………

Lihat Penyelesaian 🔜


Informasi:


1. Perhitungan Standard Cost Per Unit:

1.1. Unit Azalea 69/84: 


Harga Pokok Tanah:

Luas Tanah = 84 m2 x Rp. 600.000/m2 = 

Rp. 50.400.000


Harga Pokok Bangunan:


Biaya Langsung:


Material:

1. Batu Bata:

1.1. Tembok depan dan belakang: 

= (8m x 7m) + (8m x 7m) = 112 m2

1.2. Tembok Samping:

= (8m x 9m) + (8m x 9m) = 144 m2

1.3. Tembok 2 Buah Kamar:

= (3m x 4m x 3) + (2,5m x 4m x 2) = 56 m2

1.4. Tembok Kamar Mandi:

= 1,5m x 4 = 6 m2

1.5. Total Luas Tembok:

= 112 m2 + 114 m2 + 56 m2 = 282 m2


Kebutuhan Batu Bata:

Luas Tembok:

= 282 m2 x 90 buah = 25.380 buah, 

dibulatkan menjadi 27.000 buah.

Biaya Batu Bata:

= 27.000 buah x Rp. 500 = Rp. 13.500.000


2. Semen:

Luas Tembok = 282 m2,

Kebutuhan Semen = 10 kg/m2

Kebutuhan Semen:

2.1. Pasang Batu Dinding

= 282 m2 x 10 kg = 2.820 kg

Kebutuhan Semen dalam Zak:

= 2.820 kg : 50 kg = 56,4 zak, 

dibulatkan menjadi = 57 Zak.

2.2. Plester Dinding Luar dan Dalam:

= 282 m2 x 2 lapis = 564 kg

Kebutuhan Semen = 5 kg/m2,

Kebutuhan Semen dalam Zak = 

(564 kg x 5 kg) : 50 kg = 56,4 Zak,

dibulatkan menjadi 57 Zak.

3.3. Untuk Lantai:

Luas Lantai = 69 m2, 

Tebal Semenisasi Lantai = 10 cm (0,1 m)

Volume Lantai = 69 m2 x 0,1 m = 6,9 m3

Rasio Semen dan Pasir = 1 : 5

Kebutuhan Semen = (1 : 6) x 6,9 m3 = 1,15 m3

Berat Jenis Semen = 1.500 kg : m3

Kebutuhan Semen dalam Zak =

(1.500 kg x 1,15 m3) : 50 Kg = 34,5 Zak,

dibulatkan menjadi = 35 Zak.

4.4. Untuk Cor Pondasi:

Volume Pondasi: 0,2 m x 0,2 m x 56 m x 2 = 4,48 m3, di mana:

#. 0,2 m atau 20 cm adalah Lebar Pondasi

#. 0,2 m atau 20 cm adalah Tinggi Pondasi

#. 56 Meter adalah Keliling Rumah, 2 bagian yang dicor adalah Pondasi dan Penutup Dinding Atas.

#. Perbandingan Campuran Cor = 1 : 2 : 3


Kebutuhan Semen:

= (1 : 6) x 4,48 m3 

= 0,747 m3 x 1.500 kg (berat semen) 

 1.120 kg

Kebutuhan Semen dalam Zak:

= 1.120 kg/50 kg = 22,40 Zak,

dibulatkan menjadi 23 Zak.

Total Kebutuhan Semen:

= 57 Zak + 57 Zak + 35 Zak + 23 Zak 

 172 Zak @ Rp. 60.000 = Rp. 10.320.000


3. Pasir:

Kebutuhan Pasir:

3.1. Pemasangan Batu Bata:

Luas Tembok = 282 m2

Kebutuhan Pasir = 0,045 m3

Kebutuhan Pasir = 282 m2 x 0,045 m3 = 12,69 m3

3.2. Plester Tembok:

Luas Tembok = 

282 m2 x 2 (Lapisan Luar dan Dalam) = 564 m2

Kebutuhan Pasir = 0,027 m3

Kebutuhan Pasir = 564 m2 x 0,027 m3 = 15,228 m3

3.3. Pasir untuk Lantai:

Volume Lantai = 69 m2 x 0,1 m (tebal) = 6,9 m3

Rasio Semen dan Pasir = 1 : 5

Kebutuhan Pasir = (5/6) x 6,9 m3 = 5,75 m3

3.4. Pasir untuk Cor Pondasi:

Perbandingan Cor Pondasi = 1 : 2 : 3 (1 Bagian Semen, 2 Bagian Pasir, 3 Bagian Kerikil). Volume Cor yang dibutuhkan untuk rumah tipe 69 = 2,92 m3.


Kebutuhan Pasir:

 = (2 : 6) x 2.92 m3 = 0,973 m3

Total Kebutuhan Pasir:

= 12,69 m3 + 15,228 m3 + 5,75 m3 + 0,973 m3

= 34,641 m3 x @ Rp. 150.000 = Rp. 5.196.150


4. Kerikil:

Kebutuhan kerikil untuk cor pondasi (dengan volume 2,92 m3) = (3/6) x 2,92 m3 = 1,46 m3, dibulatkan menjadi 2 x Rp. 300.000 (harga kerikil) = Rp. 600.000.


5. Besi Beton:

Kebetuhan Besi Beton = 

9,8 mm x 60 buah x Rp. 66.000 =

Rp. 33.808.000


6. Papan:

Kebutuhan Papan Resplang (ukuran 2 x 10)

= 20 x Rp. 40.000 = Rp. 800.000


7. Broti Plafon:

Kebutuhan Broti Plafon (ukuran 1,5 x 2)

= 35 Batang x Rp. 30.000 

= Rp. 1.050.000


8. Seng:

Kebutuhan Seng (ukuran 0,3 mm x 210 cm) = 

40 Lembar x Rp. 80.000 = Rp. 3.200.000

Rabung Seng = 

4 Lembar x Rp. 30.000 = Rp. 120.000

Total Kebutuhan Seng = Rp. 3.320.000


9. Kusen, Pintu dan Jendela:

Pintu ukuran 90 x 200 = 

4 Buah x Rp. 350.000 = Rp. 1.400.000

Kusen untuk ukuran pintu 90 x 200 =

4 Buah x Rp. 200.000 = Rp. 800.000

Jendela = 

4 Buah x Rp. 150.000 = Rp. 600.000

Kusen Jendela =

4 Buah x Rp. 100.000 =

Rp. 400.000

Total Kebutuhan Kusen, Pintu dan Jendela =

Rp. 1.400.000 + Rp. 800.000 + 

Rp. 600.000 + Rp. 400.000 = Rp. 3.200.000


10. Kunci, Engsel dan Lainnya = Rp. 500.000.


11. Plafon:

Kebutuhan Triplek untuk Plafon = 69 m2

(Luas Bangunan) : 2 m2 (Luas Triplek ukuran 1 m x 2 m) = 34,5, dibulatkan menjadi 35 Lembar x Rp. 50.000 (triplek 3 mm) = Rp. 1.750.000.


Lak Plafon = 40 x Rp. 5.000 = Rp. 200.000

Total Kebutuhan Plafon = Rp. 1.950.000


12. Closet Duduk Toto (Monoblock Closet tipe 421) Rp 2.059.000.


13. Pintu Kamar Mandi (Model Jalosi Kaca Oval Warna Biasa) Rp. 300.000.


14. Cat Minyak dan Cat Tembok:

Cat Minyak Kusen =

2 Kaleng x Rp. 125.000 = Rp. 250.000

Cat Minyak Tembok =

2 Pail x Rp. 250.000 = Rp. 500.000

Total Kebutuhan Cat = Rp. 750.000


15. Instalasi Pipa Air = Rp. 500.000


16. Instalasi Listrik dan PLN:

PLN - Daya 2.200 Watt sebesar Rp. 1.300.000.

16.1. Pemasangan listrik dengan material:

Pemasangan listrik stop kontak sebesar Rp 270.000 per titik (kabel standart NYM 3x2,5 mm, stop kontak broco) = 5 Titik x Rp. 270.000 = Rp. 1.350.000.


16.2. Pemasangan Control AC sebesar Rp 260.000 per titik = 2 Titik x Rp. 260.000 = Rp. 520.000.


16.3. Pemasangan antena sebesar Rp 260.000 per titik = 2 Titik x Rp. 260.000 = Rp. 520.000.


16.4. Pemasangan telepon Rp 235.000 per titik = 2 Titik x Rp. 235.000 = Rp. 470.000.


Total Instalasi Listrik dan PLN = Rp. 4.160.000


17. Keramik:

Kebutuhan keramik untuk Luas Lantai = 69 m2, ditambah dengan keliling ruangan 2 x (10 (Panjang) + 6,9 (Lebar)) x 0.1 (tinggi plin 10 cm) = 3.38 m2, sehingga totalnya adalah 72,38 m2 (69 m2 + 3,38 m2). Kemudian tambahkan 5% untuk cadangan, total kebutuhan keramik adalah 72,38 + (72,38 x 0.05) = 76 m2. 1 Dus Keramik Granit = 1 m2, sehingga membutuhkan 76 dus keramik.


Merk Keramik : Surface matt foggy 60 x 60 (m2) = 76 Dus x Rp 250.000 = Rp. 19.000.000.


18. Pemasangan Bouwplank = 

69 m2 x Rp. 30.000 = Rp. 2.070.000


19. Lainnya (Westafel, Pipa Saluran Air, Material Lainnya) sebesar  Rp. 7.700.000.


#. Total Material Tipe Azalea (69/84) = 

     Rp. 110.783.150

#. Upah Tenaga Kerja Langsung =

     4 Orang x Rp. 100.000 x 1 Unit x 24 Hari x 6 Bulan = 

     Rp. 57.600.000

#. Pembersihan Lokasi (Rata - Rata) =

     (Rp. 50.000.000/250 Unit) = Rp. 200.000

#. Total Biaya Langsung = Rp. 168.583.150


Biaya Tidak Langsung:

Infrastruktur = Rp. 47,157,283,500 : 250 Unit = 

Rp. 188.629.134


Biaya Overhead Proyek:

Biaya Overhead Tetap:

Gaji Pengawas = 

(12 Orang x Rp. 10.000.000 x 6 Bulan) =

Rp. 720.000.000 : 250 Unit = Rp. 2.880.000


Biaya Overhead Variable:

Beban Bonus =

Rp. 284.750.000/250 Unit =

Rp. 1.139.000 (berdasarkan data bonus sebelumnya)

Bahan Penolong =

Rp. 92.425.000/250 Unit =

Rp. 369.700 (Paku, Kuas, Aqua Proof, Amplas, Lem Aibon, Thiner, dll)


#. Total Biaya Tidak Langsung = Rp. 193.017.834

          

1.1. Standard Cost - Tipe Azalea (69/84)/Unit = Rp. 412.000.984, terdiri dari:


1.1.1. Harga Pokok Tanah = Rp. 50.400.000

1.1.2. Harga Pokok Bangunan:

1.1.2.1. Total Biaya Langsung = Rp. 168.583.150

1.2.2.2. Total Biaya Tidak Langsung = Rp. 193.017.834


1.2. Standard Cost - Unit Bougenville (44/75)/Unit = 

       Rp. 357.500.700

1.3. Standard Cost - Unit Rose (42/72)/Unit = 

       Rp. 330.870.980


1.4. Perkiraan Dana Pembangunan Infrastruktur:


Material = 

Rp. 41,145,555,150 - Rp. 4.560.000.000 

(Harga Pokok Tanah) = Rp. 36,585,555,200

Bahan Penolong = 

Rp. 4.571.728.350

Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung =

100 orang x Rp 100.000 x 24 hari x 6 Bulan = 

Rp. 1.440.000.000

Total Perkiraan Dana = Rp. 42,597,283,500

………

Back to Content ↑

2. Anggaran Dana yang diperlukan untuk Pelaksanaan Proyek:

2.1. Biaya Langsung dan Tidak Langsung:

2.1.1. Material = Rp. 15,392,758,700, terdiri dari:


2.1.1.1. Tipe Azalea (69/84) = Rp. 412.000.984 - Rp. 50.400.000 (Harga Pokok Tanah) - Rp. 188.629.134 (Biaya Infrastruktur Per Unit) - Rp. 57.600.000 (Upah Langsung) - Rp. 4.019.000 (Gaji Pengawas dan Bonus) - Rp. 369.700 (Bahan Penolong) - Rp. 200.000 (Pembersihan Lokasi) = Rp. 110.783.150 x 50 Unit = Rp. 5.539.157.500.


2.1.1.2. Tipe Bougenville (44/75) = Rp. 357.500.700 - Rp. 45.000.000 (Harga Pokok Tanah) - Rp. 188.629.134 (Biaya Infrastruktur Per Unit) - Rp. 57.600.000 (Upah Langsung) - Rp. 4.019.000 (Gaji Pengawas dan Bonus) - Rp. 369.700 (Bahan Penolong) - Rp. 200.000 (Pembersihan Lokasi) = Rp. 61.682.866 x 100 Unit = Rp. 6.168.286.600.


2.1.1.3. Tipe Rose (42/72) = Rp. 330.870.980 - Rp. 43.200.000 (Harga Pokok Tanah) - Rp. 188.629.134 (Biaya Infrastruktur Per Unit) - Rp. 57.600.000 (Upah Langsung) - Rp. 4.019.000 (Gaji Pengawas dan Bonus) - Rp. 369.700 (Bahan Penolong) - Rp. 200.000 (Pembersihan Lokasi) = Rp. 36.853.146 x 100 Unit = Rp. 3.685.314.600.


2.1.2. Bahan Penolong = Rp. 92.425.000, terdiri dari:


Tipe Azalea (69/84) = 

Rp. 369.700 x 50 Unit = Rp. 18.485.000

Tipe Bougenville (44/75) =

Rp. 369.700 x 100 Unit = Rp. 36.970.000

Tipe Rose (42/72) =

Rp. 369.700 x 100 Unit = Rp. 36.970.000


2.1.3. Pembersihan Lokasi = Rp. 50.000.000


2.1.4. Infrastruktur = Rp. 45,717,283,500 (perkiraan dana dalam perhitungan) - Rp. 4.560.000.000 (Harga Pokok Tanah) = Rp. 41,157,283,500.


2.1.5. Gaji Pengawas dan Bonus =

Rp. 720.000.000 + Rp. 284.750.000 = Rp. 1.004.750.000


2.1.6. Upah Tenaga Kerja Langsung = Rp. 14,400,000,000


2.1.7. Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung (Infrastruktur) = Rp. 1.440.000.000


#. Perhitungan dana biaya langsung (material dan upah langsung) dan biaya tidak langsung (overhead tetap dan variable) di luar tanah Rp. 73,537,217,200, dibulatkan menjadi Rp. 80,000,000,000.


#. Dana deviasi (standard deviation cost) yang ditetapkan adalah 5% dari anggaran biaya langsung dan tidak langsung = Rp. 80,000,000,000 x 5% = Rp. 4.000.000.000.


#. Total dana yang dibutuhkan sebesar Rp. 84,000,000,000.

……………

Back to Content ↑

3. Pengajuan Kredit Sindikasi:

Pada tanggal 1 Juni 2018, PT. Properti Land Indonesia mengajukan kredit sindikasi kepada Bank BRI, BNI dan Mandiri sebesar Rp. 84,000,000,000 ntuk jangka waktu 3 tahun, dengan bunga kredit sebesar 15% per tahun. Total Arranger dan Management Fee yang dibebankan adalah Rp 100.000.000, serta biaya notaris Rp. 50.000.000. Pencairan dana dilakukan pada tanggal 15 Juni 2018. Jaminan yang diberikan adalah:


- Sertifikat Deposito sebesar Rp. 10,000,000,000 dan

- Surat Berharga: 1.000.000 lembar saham dari berbagai emiten senilai Rp. 65,790,810,000.


Tabel Angsuran Kredit (per tanggal 15 bulan berikutnya):

- Angsuran Pokok per bulan = Rp. 2.333.333.333

  (Rp. 84,000,000,000 : 36 bulan)

- Angsuran Bunga per bulan = Rp. 1.050.000.000

  (Rp. 84,000,000,000 x 0.15 =

   Rp. 12,600,000,000 : 12 Bulan)

- Premi Asuransi perbulan = Rp. 10.000.000

Total angsuran kredit perbulan = Rp. 3.393.333.333


Lihat Penyelesaian 🔜
………

4. Kebutuhan Material dan Bahan Penolong:

#. Tipe Azalea (69/84):

Rp. 412.000.984 - Rp. 50.400.000 (Harga Pokok Tanah) - Rp. 188.629.134 (Biaya Infrastruktur Per Unit) - Rp. 57.600.000 (Upah Langsung) - Rp. 4.019.000 (Gaji Pengawas dan Bonus) - Rp. 200.000 (Pembersihan Lokasi) = Rp. 111.152.850 x 50 Unit = Rp. 5.557.642.500.


#. Tipe Bougenville (44/75):

Rp. 357.500.700 - Rp. 45.000.000 (Harga Pokok Tanah) - Rp. 188.629.134 (Biaya Infrastruktur Per Unit) - Rp. 57.600.000 (Upah Langsung) - Rp. 4.019.000 (Gaji Pengawas dan Bonus) - Rp. 200.000 (Pembersihan Lokasi) = Rp. 62.052.566 x 100 Unit = Rp. 6.205.256.600.


#. Tipe Rose (42/72):

Rp. 330.870.980 - Rp. 43.200.000 (Harga Pokok Tanah) - Rp. 188.629.134 (Biaya Infrastruktur Per Unit) - Rp. 57.600.000 (Upah Langsung) - Rp. 4.019.000 (Gaji Pengawas dan Bonus) - Rp. 200.000 (Pembersihan Lokasi) = Rp. 37.222.846 x 100 Unit = Rp. 3.722.284.600.


#. Infrastruktur: Rp. 41,157,283,600 (material dan bahan penolong).


Total Pembelian material dan bahan penolong sesuai yang dianggarkan kepada PT. Sinar Makmur dilakukan pada tanggal 17 Juni 2018 sampai dengan 31 Desember 2018 sebesar Rp. 56,642,467,400, dan dibayar setiap bulan dengan rincian sbb:


*) Tanggal 17 Juni 2018, pembayaran uang muka pembelian Rp. 2.000.000.000, 30 Juni 2018 total pembayaran sisa hutang Rp. 6.250.870.000 (Total Utang Usaha: Rp. 8.250.870.000).


*) Tanggal 5 Juli 2018, pembayaran uang muka pembelian Rp. 3.000.000.000, 31 Juli 2018 total pembayaran sisa hutang Rp. 8.371.887.500 (Total Utang Usaha: Rp. 11,371,887,500).


*) Tanggal 2 Agustus 2018, pembayaran uang muka pembelian Rp. 1.500.000.000, 31 Agustus 2018, total pembayaran sisa hutang Rp. 7.500.870.000 (Total Utang Usaha: Rp. 9.000.870.000).


*) Tanggal 3 September 2018, pembayaran uang muka pembelian Rp. 2.000.000.0000, 30 September 2018, total pembayaran sisa hutang Rp. 9.700.860.980 (Total Utang Usaha: Rp. 11,700,860,980).


*) Tanggal 3 September 2018, pembayaran uang muka pembelian Rp. 2.000.000.000, 31 Oktober 2018, total pembayaran sisa hutang Rp. 6.279.870.200 (Total Utang Usaha: Rp. 8.279.870.200).


*) Tanggal 5 November 2018, pembayaran uang muka pembelian Rp. 1.000.000.000, 30 November 2018, total pembayaran sisa hutang Rp. 6.467.809.500 (Total Utang Usaha: Rp. 7.467.809.500).


*) Tanggal 1 Desember 2018, pembayaran uang muka pembelian Rp. 100.000.000, 31 Desember 2018, total pembayaran sisa hutang Rp. 470.299.200 (Total Utang Usaha: Rp. 570.299.200).


Lihat Penyelesaian 🔜

………

Back to Content ↑

Pembayaran Angsuran Kredit Sindikasi, Pembersihan Lokasi (termasuk Upah Tenaga Kerja Langsung dan Penyelia) dan Informasi Lainnya:

5. Tanggal 15 Juli 2018, pembayaran pertama angsuran kredit sindikasi.


6. Tanggal 31 Juli 2018, pembayaran pembersihan lokasi sebesar Rp. 50.000.000 dan upah penyelia serta tenaga kerja langsung:


Upah Tenaga Kerja Langsung =

4 Orang x Rp. 100.000 x 250 Unit x 24 Hari x 1 Bulan = 

Rp. 2.400.000.000

Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = 

100 Orang x Rp. 100.000 x 24 Hari x 1 Bulan = 

Rp. 240.000.000


Upah Lembur Tenaga Kerja Langsung 

(tidak diestimasi) =

(50 Orang x 4 Jam x Rp. 10.000)x 15 hari =

Rp. 30.000.000

Upah Lembur Tenaga Kerja Tidak Langsung 

(tidak diestimasi) =

(25 Orang x (3 Jam x Rp. 10.000)) x 15 hari =

Rp. 11.250.000


Gaji Pengawas =

(12 Orang x Rp. 10.000.000 x 1 Bulan) =

Rp. 120.000.000


Informasi Lainnya:

#. Tanggal 31 Agustus 2018, pembayaran upah sama seperti sebelumnya dan tidak ada upah lembur.


#. Tanggal 30 September 2018, gaji dan upah yang masih harus dibayar seperti sebelumnya.

          

Perhitungan upah lembur tenaga kerja langsung Rp. 30.350.000, dan dibayarkan tanggal 5 Oktober 2018, dengan rincian sbb:


*) 20 Orang x (4 Jam x Rp. 10.000)) x 10 hari = 

    Rp. 8.000.000

*) 30 Orang x (2 Jam x Rp. 10.000)) x 12 hari = 

    Rp. 7.200.000

*) 25 Orang x (3 Jam x Rp. 10.000)) x 17 hari =

    Rp. 12.750.000

*) 20 Orang x (1 Jam x Rp. 10.000)) x 12 hari =

    Rp. 2.400.000


Perhitungan upah lembur tenaga kerja tidak langsung Rp. 13.200.000, dibayarkan tanggal 5 Oktober 2108, dengan rincian:


*) 20 Orang x (3 Jam x Rp. 10.000)) x 10 hari =

    Rp. 6.000.000

*) 30 Orang x (2 Jam x Rp. 10.000)) x 12 hari =

    Rp. 7.200.000


#. Tanggal 29 Oktober 2018, perhitungan upah lembur tenaga kerja langsung yang masih harus dibayar Rp. 32.350.000, tenaga kerja tidak langsung Rp. 12.750.000, dan dibayarkan tanggal 2 November 2018.


#. Tanggal 28 November 2018, perhitungan upah lembur tenaga kerja langsung Rp. 32.750.000, tenaga kerja tidak langsung Rp. 12.000.000, dan dibayarkan tanggal 3 Desember 2018.


#. Tanggal 31 Desember 2018, pembayaran tunai upah lembur tenaga kerja langsung Rp. 38.000.000, tidak langsung sebesar Rp. 15.300.000. Pemberian bonus kepada pengawas sebesar Rp. 200.000.000.


#. Tanggal 30 Januari 2019, perhitungan gaji pengawas dan upah tenaga kerja tidak langsung ditangguhkan sebagai berikut, serta dibayar tunai:


Gaji Pengawas = Rp. 120.000.000

Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = 

Rp. 240.000.000

Upah Lembur TKTL (tidak diestimasi) = 

Rp. 16.000.000


#. Tanggal 28 Febuari 2019, perhitungan gaji pengawas yang upah tenaga tidak langsung yang masih harus dibayar dan dibayarkan tanggal 3 Maret 2019:


Gaji Pengawas = Rp. 120.000.000

Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = 

Rp. 240.000.000

Upah Lembur TKTL (tidak diestimasi) = 

Rp. 12.750.000


Lihat Penyelesaian 🔜

………

Back to Content ↑

Penyelesaian Sebagian Unit Produksi, Pembelian Bahan Penolong, Data Transaksi Penjualan (Tunai dan Kredit), dan Penyelesaian Seluruh Unit Produksi:

7. Tanggal 5 November 2018, Unit yang selesai diproduksi sbb:

- Tipe Azalea (69/84) =

   Rp. 412.000.984 x 30 Unit = Rp. 12,360,029,500

- Tipe Bougenville (44/75) =

   Rp. 357.500.700 x 80 Unit = Rp. 28,600,056,000

- Tipe Rose (42/72) =

   Rp. 330.870.980 x 70 Unit = Rp.23.160.968.600


Lihat Penyelesaian 🔜


8. Tanggal 10 November 2018, membeli bahan penolong berupa:

- Aqua Proof ukuran kecil untuk unit rumah: 

   (2 pcs x 250 Unit x Rp. 45.000) = 

   Rp. 22.500.000

- Aqua Proof ukuran besar untuk infrastruktur: 

   (50 pcs x Rp. 85.000) = Rp. 4.250.000


Total pembelian sebesar Rp. 26.750.000 dibayar tunai.


Lihat Penyelesaian 🔜

9. Tanggal 1 Desember 2018, Data Transaksi Penjualan Rumah sbb:

*) Penjualan Tunai:

 - Tipe Azalea (69/84) =

    Rp. 700.000.000 x 5 Unit = Rp. 3.500.000.000

 - Tipe Bougenville (44/75) =

    Rp. 550.000.000 x 10 Unit = Rp. 5.500.000.000

 - Tipe Rose (42/72) =

    Rp. 480.000.000 x 10 Unit = Rp. 4.800.000.000

  - Info: Booking Fee sebesar Rp. 50.000.000

    (Tipe Rose (42/72)) (10 pembeli x Rp. 5.000.000), 

    sisanya dibayar pada tanggal 3 Januari 2019 

    sebesar Rp. 4.750.000.000.


*) Penjualan Kredit:

1. Toni Santoso:

     - Tipe Azalea (69/84)

     - Tanggal Transaksi: 4 Desember 2018

     - Tanggal Angsuran: 4 Januari 2019

     - Jangka Waktu: 10 Tahun

     - Bunga setahun: 14%

     - Booking Fee/DP: Rp. 5.000.000

     - Angsuran Pokok per bulan: Rp. 5.833.333

     - Angsuran Bunga per bulan: Rp. 8.166.667

     - Total Angsuran per bulan: Rp. 14.000.000


2. Budi Chandra:

     - Tipe Bougenville (44/75)

     - Tanggal Transaksi: 7 Desember 2018

     - Tanggal Angsuran: Januari 2019

     - Jangka Waktu: 5 Tahun

     - Bunga setahun: 10%

     - Booking Fee: Rp. 5.000.000

     - Angsuran Pokok per bulan: Rp. 9.166.667

     - Angsuran Bunga per bulan: Rp. 4.583.333

     - Total Angsuran per bulan: Rp. 13.750.000


3. William Syahputra:

     - Tipe Rose (42/72)

     - Tanggal Transaksi: 10 Desember 2018

     - Tanggal Angsuran: 10 Januari 2019

     - Jangka Waktu: 3 Tahun

     - Bunga setahun: 8%

     - Booking Fee: Rp. 5.000.000

     - Angsuran Pokok per bulan: Rp. 13.333.333

     - Angsuran Bunga per bulan: Rp. 3.200.000

     - Total Angsuran per bulan: Rp. 16.533.333


Lihat Penyelesaian 🔜

………

 

10. Pada akhir Desember 2018, seluruh rumah selesai dibangun, sedangkan pembangunan infrastruktur secara keseluruhan selesai per 28 Febuari 2019. Sisa unit yang selesai diproduksi:

- Tipe Azalea (69/84) =

   Rp. 412.000.984 x 20 Unit = Rp. 8.240.019.680

- Tipe Bougenville (44/75) =

   Rp. 357.500.700 x 20 Unit = Rp. 7.150.014.000

- Tipe Rose (42/72) =

   Rp. 330.870.980 x 30 Unit = Rp. 9.926.129.400


Lihat Penyelesaian 🔜

11. Data Transaksi Penjualan Rumah Bulan Januari 2019 sbb:

*) Tanggal 3 Januari 2019:

     - Penjualan Tunai:

     - Tipe Azalea (69/84) =

        Rp. 700.000.000 x 5 Unit = Rp. 3.500.000.000

     - Tipe Bougenville (44/75) =

        Rp. 550.000.000 x 5 Unit = Rp. 2.750.000.000

     - Tipe Rose (42/72) =

        Rp. 480.000.000 x 3 Unit = Rp. 1.480.000.000


Lihat Penyelesaian 🔜

………

Back to Content ↑

12. Laporan Perhitungan Harga Pokok Proyek ‘The Royal Park Karawaci’ (Full Costing Method) Per 28 Febuari 2019:

Harga Pokok Proyek:


A. Barang Dalam Proses (BDP) Awal = Rp. 0


B. Harga Pokok Tanah = Rp. 15,900,000,000


C. Harga Pokok Bangunan:


1. Biaya Langsung:

1.1. Pembersihan Lokasi = Rp. 50.000.000

1.2. Material = Rp. 15,392,758,700, rincian:

1.2.1. Unit Azalea (69/84) = Rp. 5.539.157.500

1.2.2. Unit Bougenville (44/75) = Rp. 6.168.286.600

1.2.3. Unit Rose (42/72) = Rp. 3.685.314.600

1.3. Upah Tenaga Kerja Langsung = Rp. 14,400,000,000, rincian:


1.3.1. Unit Azalea (69/84) = Rp. 2.880.000.000 (4 Orang x Rp. 100.000 x 50 Unit x 24 Hari x 6 Bulan)


1.3.2. Unit Bougenville (44/75) = Rp. 5.760.000.000 (4 Orang x Rp. 100.000 x 100 Unit x 24 Hari x 6 Bulan)


1.3.3. Unit Unit Rose (42/72) = Rp. 5.760.000.000 (4 Orang x Rp. 100.000 x 100 Unit x 24 Hari x 6 Bulan)


Total Biaya Langsung = Rp. 29,842,758,700

(1.1 + 1.2 + 1.3)


2. Biaya Tidak Langsung:

2.1. Infrastruktur:

2.1.1. Material = Rp. 36,585,555,200

2.1.2. Bahan Penolong = Rp. 4.571.728.350

2.1.3. Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = 

Rp. 1.440.000.000 (100 orang x Rp 100.000 x 24 hari x 6 Bulan)


Total Biaya Infrastruktur = Rp. 42,597,283,500


2.2. Biaya Overhead Proyek:

2.2.1. Biaya Overhead Tetap:

2.2.1.1. Gaji Pengawas = Rp. 720.000.000

2.2.2. Biaya Overhead Variable:

2.2.2.1. Pemakaian Bahan Penolong = Rp. 92.425.000, rincian:


2.2.2.1.1. Unit Azalea (69/84) = Rp. 18.485.000

2.2.2.1.2. Unit Bougenville (44/75) = Rp. 36.970.000

2.2.2.1.3. Unit Rose (42/72) = Rp. 36.970.000

2.2.1.2. Bonus Pengawas = Rp. 284.750.000


Total Biaya Overhead Variable = Rp. 377.175.000


Total Biaya Overhead = Rp. 1.097.175.000

Total Biaya Tidak Langsung = Rp. 43,694,458,500

(2.1 + 2.2)


Total Harga Pokok Bangunan =

Rp. 73,537,217,200 (1 + 2)


D. Barang Dalam Proses (BDP) Berjalan = 

     Rp. 89,437,217,200 (A + B + C)


E. Beban Deviasi Tangguhan:

E.1. Gaji Pengawas = Rp. 240.000.000

E.2. Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = Rp. 480.000.000

E.3. Upah Lembur

E.3.1. Tenaga Kerja Langsung = Rp. 163.450.000

E.3.2. Tenaga Kerja Tidak Langsung = Rp. 93.250.000

E.4. Bahan Penolong = Rp. 26.750.000


Total Beban Deviasi Tangguhan = Rp. 1.003.450.000


F. Pendapatan Deviasi Tangguhan:

F.1. Barang Dalam Proses (BDP) Akhir:

F.1.1. Unit Azalea (69/84):

F.1.1.1. Material = Rp. 184.180.000

F.1.1.2. Bahan Penolong = Rp. 0

F.1.2. Unit Bougenville (44/75):

F.1.2.1. Material = Rp. 383.372.430

F.1.2.2. Bahan Penolong = Rp. 0

F.1.3. Unit Rose (42/72):

F.1.3.1. Material = Rp. 328.739.400

F.1.3.2. Bahan Penolong = Rp. 0

F.1.4. Infrastruktur = Rp. 1.677.850.000

F.2. Selisih Positif Beban Bonus = Rp. 84.750.000


Total Pendapatan Deviasi Tangguhan = 

Rp. 2.658.891.830


G. Harga Pokok Proyek = Rp. 87,781,775,400

     (D + E - F)


H. Harga Pokok Produk (COGS) Per Unit:

H.1. Unit Azalea (69/84) = Rp. 405.659.784

H.2. Unit Bougenville (44/75) = Rp. 351.009.376

H.3. Unit Rose (42/72) = Rp. 324.925.986


I. Harga Pokok Standar (COS) Per Unit:

I.1. Unit Azalea (69/84) = Rp. 412.000.984

I.2. Unit Bougenville (44/75) = Rp. 357.500.700

I.3. Unit Rose (42/72) = Rp. 330.870.980


………

Back to Content ↑

13. Deviasi dan Perhitungan Harga Pokok Produk (COGS) Per Unit:

#. Beban Deviasi:

Unit Azalea (69/84):

Batu Bata (rusak dan hilang):

25.000 pcs x Rp. 500 = Rp. 12.500.000

Keramik (rusak) = Rp. 850.000

Total Beban Deviasi = Rp. 13.350.000


Lihat Penyelesaian 🔜


#. Beban Deviasi Tangguhan:

Gaji Pengawas =

12 Orang x Rp. 10.000.000 x 2 Bulan = 

Rp. 240.000.000

Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = 

100 orang x Rp 100.000 x 24 hari x 2 Bulan = 

Rp. 480.000.000


Upah Lembur:

Tenaga Kerja Langsung:

Tanggal 31 Juli 2018 = Rp. 30.000.000

Tanggal 30 September 2018 = Rp. 30.350.000

Tanggal 29 Oktober 2018 = Rp. 32.350.000

Tanggal 28 November 2018 = Rp. 32.750.000

Tanggal 31 Desember 2018 = Rp. 38.000.000

Total Upah Lembur TKL = Rp. 163.450.000

Tenaga Kerja Tidak Langsung:

Tanggal 31 Juli 2018 = Rp. 11.250.000

Tanggal 30 September 2018 = Rp. 13.200.000

Tanggal 29 Oktober 2018 = Rp. 12.750.000

Tanggal 28 November 2018 = Rp. 12.000.000

Tanggal 31 Desember 2018 = Rp. 15.300.000

Tanggal 30 Januari 2018 = Rp. 16.000.000

Tanggal 28 Febuari 2018 = Rp. 12.750.000

Total Upah Lembur TKL = Rp. 93.250.000


Bahan Penolong = Rp. 26.750.000


Total Beban Deviasi Tangguhan = 

Rp. 1.003.450.000


#. Pendapatan Deviasi Tangguhan:


Stock opname:

1. Unit Azalea (69/84):

1.1. Batu Bata = 

1.500 pcs x Rp. 500 x 50 Unit = Rp. 37.500.000

Standard Cost Batu Bata selanjutnya:

27.000 pcs - 2.000 pcs = 25.000 pcs

1.2. Semen = 

2 Zak x 50 Unit x Rp. 60.000 =

Rp. 6.000.000

1.3. Pasir = 

1 m2 x Rp. 150.000 x 50 Unit = 

Rp. 7.500.000

1.4. Besi Beton = 

9,8 mm x 2 buah x 50 Unit x Rp. 66.000 =

Rp. 64.680.000

1.5. Papan Resplang (ukuran 2 x 10) = 

2 x 50 Unit x Rp. 40.000 = Rp. 4.000.000

1.6. Broti Plafon (ukuran 1,5 x 2) = 

3 Batang x 50 Unit x Rp. 30.000 =

Rp. 4.500.000

1.7. Sisa keramik =

3 Dus x 50 Unit x Rp 250.000 =

Rp. 37.500.000

1.8. Material Lainnya = 

Rp. 21.500.000


Total Sisa Material:

1. Unit Azalea (69/84) = Rp. 184.180.000

2. Unit Bougenville (44/75) = Rp. 383.372.430

3. Unit Rose (42/72) = Rp. 328.739.400

4. Infrastruktur = Rp. 1.677.850.000


Lihat Penyelesaian 🔜

            

Catatan: Jika hasil stock opname material per unit rumah tidak sama, maka dapat dijumlah seluruh material yang tersisa untuk setiap unit, misalnya sisa batu bata di unit azalea totalnya Rp. 36.500.000.


Selisih Positif Beban Bonus:

= Biaya Standar - Biaya Aktual

= Rp. 284.750.000 - Rp. 200.000.000 =

= Rp. 84.750.000

Total Pendapatan Deviasi Tangguhan:

= Rp. 2.658.891.830

………


Perhitungan Harga Pokok Produk (COGS) Per Unit:

Unit Azalea (69/84) - Total Produksi 50 Unit:

A. Harga Pokok Tanah = Rp. 50.400.000

B. Harga Pokok Bangunan:


1. Biaya Langsung:

1.1. Pembersihan Lokasi = Rp. 200.000

       (Rp. 50.000.000 : 250 Unit)

1.2. Material = Rp. 110.783.150

       (Rp. 5.539.157.500 : 50 Unit)

1.3. Upah Langsung = Rp. 57.600.000

       (Rp. 2.880.000.000 : 50 Unit)


Total Biaya Langsung = Rp. 168.583.150


2. Biaya Tidak Langsung:

2.1. Infrastruktur = Rp. 188.629.134

       (Rp. 47,157,283,500/250 Unit)

2.2. Biaya Overhead Proyek:

2.2.1. Biaya Overhead Tetap:

2.2.1.1. Gaji Pengawas = Rp. 2.880.000

             (Rp. 720.000.000 : 250 Unit)

2.2.2. Biaya Overhead Variable:

2.2.2.1. Pemakaian Bahan Penolong:

2.2.2.1.1. Unit Azalea (69/84) = Rp. 369.700

                (Rp. 18.485.000 : 50 Unit)

2.2.2.1.2. Bonus Pengawas = Rp. 1.139.000

                (Rp. 284.750.000 : 250 Unit)

Total Biaya Overhead Variable = Rp.1.508.700

(2.2.2.1 + 2.2.2.2)


Total Biaya Overhead Proyek = Rp. 4.388.700

(2.2.1 + 2.2.2)

Total Biaya Tidak Langsung = Rp. 193.017.834

(2.1 + 2.2)


C. Harga Pokok Rumah = Rp. 412.000.984

     (A + B + C)


D. Beban Deviasi Tangguhan = Rp. 4.013.800

     (Rp. 1.003.450.000/250 Unit)


E. Pendapatan Deviasi Tangguhan 

     = Rp. 10.355.000, rincian:

     - Material = Rp. 3.683.600

       (Rp. 184.180.000/50 Unit)

     - Infrastruktur = Rp. Rp. 6.671.400

       (Rp. 1.677.850.000/250 Unit)


F. Harga Pokok Produk (COGS) - Unit Azalea (69/84)

    = Rp. 405.659.784 (C + D - E)


Atau:


Harga Pokok Produk (COGS) Per Unit:

Unit Azalea (69/84) - Total Produksi 50 Unit:

A. Standard Cost = Rp. 412.000.984

B. Beban Deviasi Tangguhan = Rp. 4.013.800

     (Rp. 1.003.450.000/250 Unit)

C. Pendapatan Deviasi Tangguhan

     = Rp. 10.355.000, rincian:

     - Material = Rp. 3.683.600

        (Rp. 184.180.000/50 Unit)

     - Infrastruktur = Rp. Rp. 6.671.400

        (Rp. 1.677.850.000/250 Unit)

D. Harga Pokok Produk (COGS) - Unit Azalea (69/84)

     = Rp. 405.659.784 (A + B - C)


Unit Bougenville (44/75) - Total Produksi 100 Unit:

A. Standard Cost = Rp. 357.500.700

B. Beban Deviasi Tangguhan = Rp. 4.013.800

C. Pendapatan Deviasi Tangguhan

     = Rp. 10.505.124, rincian:

     - Material = Rp. 3.833.724

        (Rp. 383.372.430/100 Unit)

     - Infrastruktur = Rp. Rp. 6.671.400

        (Rp. 1.677.850.000/250 Unit)

D. Harga Pokok Produk (COGS) - 

     Unit Bougenville (44/75)

     = Rp. 351.009.376 (A + B - C)


Unit Rose (42/72) - Total Produksi 100 Unit:

A. Standard Cost = Rp. 330.870.980

B. Beban Deviasi Tangguhan = Rp. 4.013.800

C. Pendapatan Deviasi Tangguhan

     = Rp. 9.958.794, rincian:

     - Material = Rp. 3.287.394

        (Rp. 328.739.400/100 Unit)

     - Infrastruktur = Rp. Rp. 6.671.400

        (Rp. 1.677.850.000/250 Unit)

D. Harga Pokok Produk (COGS) - Unit Rose (42/72)

     = Rp. 324.925.986 (A + B - C)


Lihat Penyelesaian 🔜


14. Tanggal 1 Maret 2019, Data Transaksi Penjualan Rumah sbb:

Penjualan Tunai:

- Tipe Azalea (69/84) = 

   Rp. 700.000.000 x 10 Unit = Rp. 7.000.000.000

- Tipe Bougenville (44/75) = 

   Rp. 550.000.000 x 15 Unit = Rp. 8.250.000.000


Lihat Penyelesaian 🔜

………

Back to Content ↑

Jurnal Penyelesaian Ilustrasi 2:

#. Transfer HPT (Harga Pokok Tanah):

Tanggal 5 Mei 2018:


Nilai Tanah = 

26.500 m2 x Rp. 600.000/m2 = 

Rp. 15,900,000,000


Dr - Persediaan:

        b. Real Estate:

             ii. Perumahan:

                 a. Barang Dalam Proses -

                     Transfer HPT Proyek:

                     The Royal Park

                     Karawaci  15,900,000,000

Cr -     Properti Investasi:

            a.Tanah (belum dikembangkan)     

                - Kawasan Karawaci   15,900,000,000


Lihat Ilustrasi 🔝

………


3) Pinjaman Kredit Sindikasi:

Tanggal 1 Juni 2018 - Pinjaman Kredit Sindikasi:


Lihat Ilustrasi 🔝


Dr - Bank (Rekening Escrow) -

        Pinjaman kredit

        sindikasi        83,850,000,000

Dr - Beban Dibayar Di muka -

        Fee Arranger &

        Notaris                   145.833.333

Dr - Beban Kredit Sindikasi -

        Fee Arranger

        & Notaris                   4.166.667

Cr -     Utang Jangka Panjang -

            Utang Bank               84,000,000,000


Catatan: Beban Dibayar Di muka diamortisasi perbulan, selama 3 tahun dengan pos lawan ‘Beban Kredit Sindikasi’ sebesar Rp. 4.166.667 per bulan (Rp. 150.000.000/36 bulan).


Pemberian Jaminan:


Dr - Ekuitas Lainnya -

        Jaminan Kredit Sindikasi -

        Sertifikat Deposito dan

        Saham  75,790,810,000

Cr -     Surat Berharga - 

            b. Tersedia untuk dijual -

                 Saham        65,790,810,000

Cr -     Sertifikat

            Deposito         10,000,000,000


Pembayaran Pokok Angsuran dan Bunga Kredit Sindikasi Pertama - Tanggal 17 Juni 2018:

Dr - Utang Jangka Panjang -

        Utang Bank          2.333.333.333

Dr - Beban Bunga -

        Kredit Sindikasi  1.050.000.000

Dr - Beban Asuransi       10.000.000

Cr -     Bank -

            Angsuran pertama

            kredit sindikasi             3.393.333.333


Dan seterusnya ..

………


Back to Content ↑

4) Pembelian Material dan Bahan Penolong Sesuai Anggaran:

Tanggal 17 Juni 2018 - DP Pembelian Material dan Bahan Penolong:


Lihat Ilustrasi 🔝


Dr - Biaya Dibayar Di muka -

        Uang Muka Pembelian -

        PT. Sinar

        Makmur     2.000.000.000

Dr - Barang Dalam Proses -

        Proyek The Royal Park

        Karawaci     8.250.870.000

Cr -     Bank (Rekening Escrow) -

            DP Pembelian

            Material                      2.000.000.000

Cr -     Utang Jangka Pendek -

            Utang Usaha -

            PT. Sinar Makmur     8.250.870.000


Tanggal 30 Juni 2018 - Pembayaran Sisa Utang (17 Juni 2017):


Dr - Utang Jangka Pendek -

        Utang Usaha -

        PT. Sinar

        Makmur  8.250.870.000

Cr -     Biaya Dibayar Di muka -

            Uang Muka Pembelian -

            PT. SM        2.000.000.000

Cr -     Bank (Rekening Escrow) -

            Pembayaran sisa hutang

            PT. SM         6.250.870.000


Dan seterusnya ..

……

Back to Content ↑

6) Pembayaran Angsuran Kredit Sindikasi, Biaya Pembersihan Lokasi, Gaji Pengawas, Upah Langsung dan Tidak Langsung:

Tanggal 15 Juli 2018: Jurnal sama seperti sebelumnya.


Lihat Contoh Jurnal 🔝


Tanggal 31 Juli 2018:

Barang Dalam Proses = Rp. 2.810.000.000, terdiri dari:

- Biaya Pembersihan Lokasi = Rp. 50.000.000

- Gaji Pengawas = Rp. 120.000.000

- Upah Tenaga Kerja Langsung = Rp. 2.400.000.000

- Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = Rp. 240.000.000


Beban Deviasi Tangguhan:

- Upah Lembur = Rp. 41.250.000

   *) TKL (tidak diestimasi) = Rp. 30.000.000

   *) TKTL (tidak diestimasi) = Rp. 11.250.000


Dr - Barang Dalam Proses -

        Biaya Pembersihan Lokasi,

        Gaji Pengawas, Upah TKL

        & TKTL          2.810.000.000

Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan -

        Upah Lembur   41.250.000

Cr -    Bank

           (Rekening Escrow)      2.851.250.000


Lihat Ilustrasi 🔝


Catatan:

#. Biaya Pembersihan Lokasi, Gaji Pengawas, Upah TKL dan TKTL dimasukan ke dalam akun ‘Barang Dalam Proses’, dan dibuat otomatisasi pekerjaan ke dalam Laporan Harga Pokok Proyek pada Aplikasi Akuntansi berdasarkan komponen yang dijabarkan di atas, termasuk upah lembur (Beban Deviasi Tangguhan), untuk memudahkan dalam membuat Laporan Keuangan.


#. Upah lembur dapat juga dicatat sebagai Aset Lancar yaitu ‘Beban Dibayar Di muka’,  sebelum diposting pada akun ‘Beban Deviasi Tangguhan’ dan ‘Barang Jadi’. Jurnalnya:


Lihat Ilustrasi 🔝


Dr - Barang Dalam Proses -

        Biaya Pembersihan Lokasi,

        Gaji Pengawas, Upah TKL

        & TKTL            2.810.000.000

Dr - Aset Lancar -

        Beban Dibayar

        Di muka -

        Upah Lembur    41.250.000

Cr -     Bank

            (Rekening

            Escrow)                2.851.250.000

……


Tanggal 31 Agustus 2018, sama seperti di atas yaitu di masukan dalam akun ‘Barang Dalam Proses’, namun tidak ada upah lembur (Beban Deviasi Tangguhan):


Lihat Ilustrasi 🔝


Barang Dalam Proses = Rp. 2.760.000.000, terdiri dari:

- Gaji Pengawas = Rp. 120.000.000

- Upah Tenaga Kerja Langsung = Rp. 2.400.000.000

- Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = Rp. 240.000.000


Dr - Barang Dalam Proses

        Gaji Pengawas, Upah TKL

        & TKTL   2.760.000.000

Cr -      Bank

             (Rekening

             Escrow)     2.760.000.000

……


Tanggal 30 September 2018:


Lihat Ilustrasi 🔝


Barang Dalam Proses = Rp. 2.760.000.000, terdiri dari:

- Gaji Pengawas = Rp. 120.000.000

- Upah Tenaga Kerja Langsung = Rp. 2.400.000.000

- Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = Rp. 240.000.000


Beban Deviasi Tangguhan:

- Upah Lembur = Rp. 43.550.000

   *) TKL (tidak diestimasi) = Rp. 30.350.000

   *) TKTL (tidak diestimasi) = Rp. 13.200.000


Dr - Barang Dalam Proses -

        Gaji Pengawas,

        Upah TKL

        & TKTL          2.760.000.000

Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan -

        Upah Lembur  43.550.000

Cr -     Bank

            (Rekening

            Escrow)                 2.803.550.000

……


Tanggal 29 Oktober 2018:


Lihat Ilustrasi 🔝


Barang Dalam Proses = Rp. 2.760.000.000, terdiri dari:

- Gaji Pengawas = Rp. 120.000.000

- Upah Tenaga Kerja Langsung = Rp. 2.400.000.000

- Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = Rp. 240.000.000


Beban Deviasi Tangguhan:

- Upah Lembur = Rp. 45.100.000

   *) TKL (tidak diestimasi) = Rp. 32.350.000

   *) TKTL (tidak diestimasi) = Rp. 12.750.000


Dr - Barang Dalam Proses -

        Gaji Pengawas,

        Upah TKL &

        TKTL               2.760.000.000

Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan -

        Upah Lembur   45.100.000

Cr -    Utang Jangka Pendek -

           Beban Akrual Proyek/

           Utang Gaji (Proyek)     2.805.100.000

……


Tanggal 2 November 2018 - Pembayaran Beban Akrual:


Dr - Utang Jangka Pendek -

        Beban Akrual Proyek/

        Utang Gaji

        (Proyek)   2.805.100.000

Cr -     Bank (Rekening

            Escrow)      2.805.100.000

……


Tanggal 28 November 2018:


Lihat Ilustrasi 🔝


Barang Dalam Proses = Rp. 2.760.000.000, terdiri dari:

- Gaji Pengawas = Rp. 120.000.000

- Upah Tenaga Kerja Langsung = Rp. 2.400.000.000

- Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = Rp. 240.000.000


Beban Deviasi Tangguhan:

- Upah Lembur = Rp. 44.750.000

   *) TKL (tidak diestimasi) = Rp. 32.750.000

   *) TKTL (tidak diestimasi) = Rp. 12.000.000


Dr - Barang Dalam Proses -

        Gaji Pengawas,

        Upah TKL

        & TKTL         2.760.000.000

Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan -

        Upah Lembur   44.750.000

Cr -    Utang Jangka Pendek -

           Beban Akrual Proyek/

           Utang Gaji (Proyek)   2.804.750.000


Tanggal 2 Desember 2018 - Pembayaran Beban Akrual:


Dr - Utang Jangka Pendek -

        Beban Akrual Proyek/

        Utang Gaji

        (Proyek)  2.804.750.000

Cr -      Bank (Rekening

             Escrow)    2.804.750.000

……


Tanggal 31 Desember 2018:


Lihat Ilustrasi 🔝


Barang Dalam Proses = Rp. 3.044.750.000, terdiri dari:

- Gaji Pengawas = Rp. 120.000.000

- Beban Bonus (Standard Cost) = Rp. 284.750.000

- Upah Tenaga Kerja Langsung = Rp. 2.400.000.000

- Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = Rp. 240.000.000


Beban Deviasi Tangguhan:

- Upah Lembur = Rp. 53.300.000

   *) TKL (tidak diestimasi) = Rp. 38.000.000

   *) TKTL (tidak diestimasi) = Rp. 15.300.000


Pendapatan Deviasi Tangguhan:

- Selisih Positif = Rp. 84.750.000

   *) Beban Bonus (Standard Cost) = Rp. 284.750.000

   *) Beban Bonus (Actual Cost) = Rp. 200.000.000


Dr - Barang Dalam Proses -

        Gaji Pengawas & Bonus

        Upah TKL &

        TKTL                 3.044.750.000

Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan -

        Upah Lembur     53.300.000

Cr -     Pendapatan Deviasi

            Tangguhan -

            Selisih Positif

            Beban Bonus          84.750.000

Cr -     Bank

            (Rekening

            Escrow)                 3.013.300.000


Catatan:

#. Beban Bonus (Standard Cost) dimasukan dalam komponen ‘Barang Dalam Proses’, karena telah terjadi penjualan unit rumah pada tanggal 1 Desember 2019 di mana Persediaan Barang Jadi dihitung berdasarkan Standard Cost (beban bonus menggunakan data sebelumnya).

#. Pembayaran Gaji, Bonus, Upah dan Lembur tanggal 31 Desember 2019 adalah Rp. 3.013.300.000 (Rp. 120.000.000 (Gaji Pengawas) + Rp. 200.000.000 (Bonus Aktual) + Rp. 2.400.000.000 (Upah TKL) + Rp. 240.000.000 (Upah TKTL) + Rp. 53.300.000 (Upah Lembur)).

……


Tanggal 30 Januari 2019:


Lihat Ilustrasi 🔝


Beban Deviasi Tangguhan:

- Gaji Pengawas, Upah TKTL dan Lembur = 

   Rp. 376.000.000

   *) Gaji Pengawas = Rp. 120.000.000

   *) Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung =

       Rp. 240.000.000

   *) Upah Lembur TKTL (tidak diestimasi) = 

       Rp. 16.000.000


Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan -

        Gaji Pengawas,

        Upah TKTL

        & Lembur    376.000.000

Cr -     Bank

            (Rekening

            Escrow)              376.000.000


Catatan: Gaji Pengawas ditangguhkan dari Standard Cost, karena dalam perhitungannya ditetapkan 6 bulan (sampai akhir Desember 2018). Namun proyek baru dapat diselesaikan dalam jangka waktu 8 bulan (Januari dan Febuari 2019), sehingga Gaji Pengawas ditangguhkan sebesar Rp. 120.000.000 pada bulan Januari 2019.

……


Tanggal 28 Febuari 2019:


Lihat Ilustrasi 🔝


Beban Deviasi Tangguhan:

- Gaji Pengawas, Upah TKTL dan Lembur = 

  Rp. 372.500.000

   *) Gaji Pengawas = Rp. 120.000.000

   *) Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung = 

       Rp. 240.000.000

   *) Upah Lembur TKTL (tidak diestimasi) = 

       Rp. 12.750.000


Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan -

        Gaji Pengawas,

        Upah TKTL

        & Lembur   372.500.000

Cr -     Utang Jangka Pendek -

            Beban Akrual Proyek/

            Utang Gaji (Proyek)   372.500.000


Tanggal 3 Maret 2019, Pembayaran Beban Akrual Proyek:


Dr - Utang Jangka Pendek -

        Beban Akrual Proyek/

        Utang Gaji

        (Proyek)  372.500.000

Cr -     Bank

            (Rekening

            Escrow)         372.500.000

………

Back to Content ↑

7) Hasil Produksi - Harga Standard Cost:

Tanggal 5 November 2018 Unit yang selesai diproduksi sbb:


Lihat Ilustrasi 🔝


- Tipe Azalea (69/84) =

   Rp. 412.000.984 x 30 Unit = Rp. 12,360,029,500

- Tipe Bougenville (44/75) =

   Rp. 357.500.700 x 80 Unit = Rp. 28,600,056,000

- Tipe Rose (42/72) =

   Rp. 330.870.980 x 70 Unit = Rp. 23,160,968,600


Lihat Perhitungan Standard Cost 🔝


Tips: Untuk memudahkan dalam proses costing, persediaan barang jadi dibuat kode dalam 2 jenis, yaitu Barang Jadi dengan Standard Cost (kode: SC), dan Barang Jadi dengan Actual Cost (kode:AC). 


Misalnya:

1. Barang Jadi (SC), yaitu:

    1.1. Tipe Azalea (69/84 - SC),

    1.2. Tipe Bougenville (44/75 - SC) ,

    1.3. Tipe Rose (42/72 - SC).

2. Barang Jadi (AC), yaitu:

    1.1. Tipe Azalea (69/84 - AC),

    1.2. Tipe Bougenville (44/75 - AC) ,

    1.3. Tipe Rose (42/72 - AC).


Dr - Barang Jadi (SC) -

        Tipe Azalea

        (69/84 - SC)       12,360,029,500

Dr - Barang Jadi (SC) -

        Tipe Bougenville

        (44/75 - SC)      28,600,056,000

Dr - Barang Jadi (SC) -

        Tipe Rose

        (42/72 - SC)        23,160,968,600

Cr -     Barang

            Dalam Proses             64,121,054,100

……

Back to Content ↑

8) Transaksi Pembelian Bahan Penolong (ditangguhkan terhadap standard cost):

Tanggal 10 November 2018 membeli bahan penolong berupa:


Lihat Ilustrasi 🔝


Aqua Proof ukuran kecil untuk unit rumah:

2 pcs x 250 Unit x Rp. 45.000 = Rp. 22.500.000

Aqua Proof ukuran besar untuk infrastruktur:

50 pcs x Rp. 85.000 = Rp. 4.250.000


Total Pembelian = Rp. 26.750.000 dibayar tunai.


Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan -

        Pembelian

        Aquaproof   26.750.000

Cr -     Bank

            (Rekening Escrow)   26.750.000

……


9) Transaksi Penjualan Rumah (Standard Cost):

Tanggal 1 Desember 2018 - Transaksi Penjualan Tunai:


Lihat Ilustrasi 🔝


Perhitungan Nilai Penjualan:

- Tipe Azalea (69/84) =

   Rp. 700.000.000 x 5 Unit = Rp. 3.500.000.000

- Tipe Bougenville (44/75) =

   Rp. 550.000.000 x 10 Unit = Rp. 5.500.000.000

- Tipe Rose (42/72) =

   Rp. 480.000.000 x 10 Unit = Rp. 4.800.000.000

 

Perhitungan Harga Pokok Standar (Cost Of Standard):

*) Tipe Azalea (69/84) =

     Rp. 412.000.984 x 5 Unit = Rp. 2.060.004.920

*) Tipe Bougenville (44/75) =

     Rp. 357.500.700 x 10 Unit = Rp. 3.575.007.000

*) Tipe Rose (42/72) =

     Rp. 330.870.980 x 10 Unit = Rp. 3.308.709.800


Jurnal Penjualan Produk Tipe Azalea (69/84) dan Tipe Bougenville (44/75):


Dr - Bank  9.000.000.000

Cr -     Penjualan Rumah -

            Tipe Azalea

            (69/84 - SC)    3.500.000.000

Cr -     Penjualan Rumah -

            Tipe Bougenville

            (44/75 - SC)    5.500.000.000


Dr - Harga Pokok

        Standar

        (COS)  5.635.011.920

Cr -     Barang Jadi (SC) -

            Tipe Azalea

            (69/84 - SC)    2.060.004.920

Cr -     Barang Jadi (SC) -

            Tipe Bougenville

            (44/75 - SC)     3.575.007.000


Uang Muka Transaksi Penjualan Tunai - Tipe Rose (42/72):


Dr - Kas   50.000.000

Cr -     Utang Jangka Pendek -

            Pendapatan Diterima

            Di muka - 

            Uang Muka Penjualan   50.000.000


Penerimaan Uang Penjualan Rumah (2 Januari 2019) - Tipe Rose (42/72):


Lihat Ilustrasi 🔝


Dr - Bank      4.750.000.000

Dr - Utang Jangka Pendek -

        Pendapatan Diterima

        Di muka - Uang Muka

        Penjualan   50.000.000

Cr -    Penjualan Rumah -

           Tipe Rose (42/72)     4.800.000.000

  

Dr - Harga Pokok

        Standar

        (COS)   3.308.709.800

Cr -     Barang Jadi (SC) -

            Tipe Rose

            (42/72)      3.308.709.800


Penjualan Kredit:

1. Toni Santoso:

    - Tipe Azalea (69/84)

    - Harga = Rp. 700.000.000

    - Standard Cost = Rp. 412.000.984

    - Tanggal Transaksi: 4 Desember 2018

    - Tanggal Angsuran: 4 Januari 2019

    - Jangka Waktu: 10 Tahun

    - Bunga setahun: 14%

    - Booking Fee/Down Payment = Rp. 5.000.000

    - Angsuran Pokok per bulan = Rp. 5.833.333

    - Angsuran Bunga per bulan = Rp. 8.166.667

    - Total Angsuran per bulan = Rp. 14.000.000


Lihat Ilustrasi 🔝

    

Tanggal 4 Desember 2018:

 Dr - Kas -

         Booking Fee  5.000.000

Cr -     Utang Jangka 

            Pendek -

            Pendapatan

            Diterima Di muka -

            Uang Muka

            Penjualan          5.000.000


Tanggal 4 Januari 2018:

Dr - Piutang Usaha -

        Pokok Piutang -

        An: Toni

        Santoso               700.000.000

Dr - Piutang Usaha -

        Pendapatan

        Bunga Kredit

        Ditangguhkan   980.000.000

Cr -     Penjualan Rumah -

            Tipe Azalea

            (69/84 - SC)              700.000.000

Cr -     Utang Jangka

            Panjang -

            Pendapatan Bunga 

            Ditangguhkan        980.000.000


 Dr - Harga Pokok

         Standar (COS)  412.000.984

Cr -     Barang Jadi (SC) -

            Tipe Azalea

            (69/84 - SC)          412.000.984


Dr - Bank            9.000.000

Dr - Utang Jangka 

        Pendek -

        Pendapatan

        Diterima Di muka -

        Uang Muka

        Penjualan     5.000.000

Cr -    Piutang Usaha -

           Pokok Piutang -

           Angsuran

           Pokok (ke-1)            5.833.333

Cr -     Pendapatan Bunga -

            Pendapatan Bunga

            Ditangguhkan -

            Angsuran

            Bunga (ke-1)          8.166.667


Amortisasi Pendapatan Bunga Ditangguhkan:


Lihat Ilustrasi 🔝


Dr - Utang Jangka

        Panjang -

        Pendapatan Bunga

        Ditangguhkan   8.166.667

Cr -     Piutang Usaha -

            Pendapatan

            Bunga Kredit

            Ditangguhkan     8.166.667


Dan Seterusnya ..


Catatan: Jika terdapat kenaikan bunga (suku bunga mengambang), maka sisa saldo ‘Pendapatan Bunga Ditangguhkan’ dibuat Jurnal Pembalik, kemudian disesuaikan dengan yang baru.

……

Back to Content ↑

Jurnal Penyesuaian Per 31 Desember 2018:

Beban dan Pendapatan Deviasi Tangguhan, penyebab:

1. Biaya Aktual (Laporan Harga Pokok Proyek) belum dilaporkan, dan infrastruktur selesai per 28 Febuari 2019. Oleh karena itu perlu dibuat jurnal penyesuaian setiap akhir periode masa akuntansi sampai biaya aktual selesai diperhitungkan.


2. Sebagian komponen dari Beban dan Pendapatan Ditangguhkan tersebut merupakan harga pokok produk dalam persediaan barang jadi yang belum diperhitungkan, sehingga belum layak dijadikan beban dan pendapatan yang sesungguhnya yang telah ditangguhkan dari harga pokok standar untuk Laporan Keuangan Per 31 Desember 2018.


Beban Deviasi Tangguhan = Rp. 254.700.000, yaitu:

Upah Lembur = Rp. 41.250.000 (31 Juli 2018)

Upah Lembur = Rp. 43.550.000 (30 September 2018)

Upah Lembur = Rp. 45.100.000 (29 Oktober 2018)

Bahan Penolong = Rp. 26.750.000 (10 November 2018)

Upah Lembur = Rp. 44.750.000 (28 November 2018)

Upah Lembur = Rp. 53.300.000 (31 Desember 2018)


Pendapatan Deviasi Tangguhan:

Selisih Positif = Rp. 84.750.000


Dr - Pendapatan Deviasi 

        Tangguhan -

        Selisih Positif

        Beban Bonus        84.750.000 

Dr - Ekuitas Lainnya -

        Penyesuaian

        Beban dan

        Pendapatan

        Deviasi

        Tangguhan           169.950.000

Cr -     Beban Deviasi

            Tangguhan -

            Upah Lembur         254.700.000


Catatan:

Dalam hal Beban Deviasi Tangguhan dicatat sebagai ‘Beban Dibayar Di muka’ (Aset Lancar), dan Pendapatan Deviasi Tangguhan dicatat sebagai Liabiliatas, maka tidak diperlukan jurnal penyesuaian di atas.

………

Back to Content ↑

#. Jurnal Pembalik Per 1 Januari 2019:

Beban dan Pendapatan Deviasi Tangguhan:

Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan -

        Upah Lembur   254.700.000

Cr -     Pendapatan Deviasi

            Tangguhan -

            Selisih Positif

            Beban Bonus       84.750.000

Cr -     Ekuitas Lainnya -

            Penyesuaian

            Beban dan

            Pendapatan

            Deviasi

            Tangguhan          169.950.000

………

Back to Content ↑

10) Hasil Produksi - Harga Standard Cost:

Pada akhir Desember 2018, seluruh rumah selesai dibangun, sedangkan pembangunan infrastruktur secara keseluruhan selesai per 28 Febuari 2019. Sisa unit yang selesai diproduksi:


Lihat Ilustrasi 🔝


Tipe Azalea (69/84) =

Rp. 412.000.984 x 20 Unit = Rp. 8.240.019.680

Tipe Bougenville (44/75) =

Rp. 357.500.700 x 20 Unit = Rp. 7.150.014.000

Tipe Rose (42/72) =

Rp. 330.870.980 x 30 Unit = Rp. 9.926.129.400


Lihat Perhitungan Standard Cost 🔝

Dr - Barang Jadi (SC) -

        Tipe Azalea

        (69/84 - SC)  8.240.019.680

Dr - Barang Jadi (SC) -

        Tipe Bougenville

        (44/75 - SC)   7.150.014.000

Dr - Barang Jadi (SC) -

        Tipe Rose

        (42/72 - SC)   9.926.129.400

Cr -     Barang

            Dalam Proses       25,316,163,100


Catatan:

Total Produksi (Standard Cost) = Barang Dalam Proses Berjalan. Total Produksi = Rp. 89,437,217,200, yaitu:

1. Tipe Azalea (69/84) =

     Rp. 412.00.984 x 50 Unit = 

     Rp. 20,600,049,200

2. Tipe Bougenville (44/75) =

     Rp. 357.500.700 x 100 Unit = 

     Rp. 35,750,070,000

3. Tipe Rose (42/72) =

     Rp. 330.870.980 x 100 Unit = 

     Rp 33,087,098,000


Total Barang Dalam Proses (BDP) Berjalan = Rp. 89,437,217,200

………


11) Transaksi Penjualan Rumah (Standard Cost) pada 3 Januari 2019 sama seperti sebelumnya.

Lihat Contoh Jurnal 🔝





Lihat Ilustrasi 🔝

………


12) Proyek The Royal Park Karawaci selesai, dan seluruh Biaya Aktual selesai diperhitungkan.

Lihat Ilustrasi 12 dan 13 🔝

Jurnal Penyesuaian Hasil Stock Opname:

1. Unit Azalea (69/84) = Rp. 184.180.000

2. Unit Bougenville (44/75) = Rp. 383.372.430

3. Unit Rose (42/72) = Rp. 328.739.400

4. Infrastruktur = Rp. 1.677.850.000

Total Bahan Baku dan Penolong = Rp. 2.574.141.830


Dr - Aset Deviasi -

        Bahan Baku dan

        Penolong   2.574.141.830

Cr -    Pendapatan

           Deviasi Tangguhan -

           Selisih Positif

           Stock Opname 2.574.141.830


Catatan: Sebagian saldo ‘Pendapatan Deviasi Tangguhan’,  menjadi harga pokok produk dalam barang jadi (Neraca), dan sisanya dilaporkan dalam laporan Laba Rugi. Sedangkan selisih positif ‘Beban Bonus’ telah dimasukan dalam akun ‘Barang Dalam Proses' per 31 Desember 2018.

………
Back to Content ↑

Jurnal Penyesuaian Beban Deviasi:

Lihat Ilustrasi 🔝

1. Unit Azalea (69/84):

1.1. Batu Bata (rusak dan hilang):

      = 25.000 pcs x Rp. 500 = Rp. 12.500.000

1.2. Keramik (rusak) = Rp. 850.000

       Total Beban Deviasi = Rp. 13.350.000


Dr - Beban Deviasi 13.350.000

Cr -     Ekuitas Lainnya/

            Saldo Laba -

            Kerusakan Material &

            Bahan Penolong  13.350.000


Jurnal Penyesuaian Barang Jadi (Actual Cost):

Lihat Ilustrasi 12 dan 13 🔝

Tanggal 28 Febuari 2019:

Sisa Barang Jadi (Standard Cost):

- Tipe Azalea (69/84) =

    Rp. 412.000.984 x 39 Unit = Rp.16.068.038.400

- Tipe Bougenville (44/75) =

    Rp. 357.500.700 x 84 Unit = Rp. 30,030,058,800

- Tipe Rose (42/72) =

    Rp. 330.870.980 x 86 Unit = Rp. 28,454,904,300


Lihat Perhitungan Standard Cost 🔝

Sisa Barang Jadi (Actual Cost):


Harga Pokok Produk (COGS) Per Unit:

Unit Azalea (69/84) - Total Produksi 50 Unit:

A. Standard Cost = Rp. 412.000.984

B. Beban Deviasi Tangguhan =

     Rp. 1.003.450.000 : 250 Unit = Rp. 4.013.800

C. Pendapatan Deviasi Tangguhan =

     Rp. 10.355.000

     - Material = Rp. 3.683.600

        (Rp. 184.180.000 : 50 Unit)

     - Infrastruktur = Rp.  6.671.400

        (Rp. 1.677.850.000 : 250 Unit)

D. Harga Pokok Produk (COGS) - Unit Azalea (69/84) =

     Rp. 405.659.784 (A + B - C)

E. Standard Cost =

     Rp. 412.000.984 x 39 Unit = Rp. 16,068,038,400

F. Actual Cost =

     Rp 405.659.784 x 39 Unit = Rp. 15,820,731,600.

G. Beban Deviasi Tangguhan - Unit Azalea (69/84) =

      Rp. 4.013.800 x 39 Unit = Rp. 156.538.200

H. Pendapatan Deviasi Tangguhan -

     Unit Azalea (69/84) =

     Rp. 10.355.000 x 39 Unit = Rp. 403.845.000

 I. Beban Deviasi Tangguhan - Laba Rugi =

    Rp. 4.013.800 x 11 Unit = Rp. 44.151.800

F. Pendapatan Deviasi Tangguhan - Laba Rugi =

    Rp. 10.355.000 x 11 Unit = Rp. 113.905.000


Jurnal:

Dr - Barang Jadi (AC) -

        Tipe Azalea

        (69/84 - AC)  16,068,038,400

Cr -     Barang Jadi (SC) -

            Tipe Azalea

            (69/84 - SC)    16,068,038,400


Dr - Pendapatan Deviasi

        Tangguhan -

        Unit Azalea

        (69/84)   403.845.000

Cr -    Beban Deviasi

           Tangguhan -

           Unit Azalea

           (69/84)            156.538.200

Cr -    Barang Jadi (AC) -

           Tipe Azalea

           (69/84 - AC)  247.306.800


Catatan:

#. Beban Deviasi Tangguhan (Azalea (69/84)) untuk Laporan Laba Rugi (Profit and Loss Statement) Rp. 44.151.800.

#.Pendapatan Deviasi Tangguhan (Azalea (69/84)) untuk Laporan Laba Rugi (Profit and Loss Statement) Rp. 113.905.000.

#. Jika Pendapatan Deviasi Tangguhan dicatat sebagai Liabilitas dan Beban Deviasi Tangguhan dicatat sebagai Beban Dibayar Di muka (Aset Lancar) jurnalnya penyesuaian sebagai berikut:

Dr - Utang Jangka Pendek -

        Liabilitas Lainnya -

        Pendapatan Deviasi

        Tangguhan -

        Unit Azalea

        (69/84)  403.845.000

Cr -     Aset Lancar -

            Beban Dibayar Di muka -

            Beban Deviasi Tangguhan -

            Unit Azalea

            (69/84)            156.538.200

Cr -     Barang Jadi (AC) -

            Tipe Azalea

            (69/84 - AC)  247.306.800


………

Back to Content ↑

Jurnal Penyesuaian untuk Laporan Laba/Rugi:

Dr - Beban Deviasi

        Tangguhan   44.151.800

Cr -     Aset Lancar -

            Beban Dibayar Di muka -

            Beban Deviasi Tangguhan -

            Unit Azalea

            (69/84)           44.151.800


Dr - Utang Jangka Pendek -

        Liabilitas Lainnya -

        Pendapatan Deviasi

        Tangguhan -

        Unit Azalea

        (69/84)  113.905.000

Cr -     Pendapatan Deviasi

            Tangguhan    113.905.000

        

Dan seterusnya ..

………

Back to Content ↑

14) Jurnal Transaksi Penjualan tanggal 1 Maret 2019:

Lihat Ilustrasi 🔝

Penjualan Tunai:

Tipe Azalea (69/84) =

Rp. 700.000.000 x 10 Unit = Rp. 7.000.000.000

Tipe Bougenville (44/75) =

Rp. 550.000.000 x 15 Unit = Rp.  8.250.000.000


Harga Pokok Produk (COGS):

Tipe Azalea (69/84) =

Rp. 405.659.784 x 10 Unit = Rp. 4.056.597.840

Tipe Bougenville (44/75) =

Rp. 351.009.376 x 15 Unit = Rp.  5.265.140.640


Dr - Bank  15,250,000,000

Cr -     Penjualan Rumah -

            Tipe Azalea

            (69/84)     7.000.000.000

Cr -     Penjualan Rumah -

            Tipe Bougenville

            (44/75)     8.250.000.000


Dr - Harga Pokok

        Produk

        (COGS)  9.321.738.480

Cr -     Barang Jadi (AC) -

            Tipe Azalea

            (69/84 - AC)  4.056.597.840

Cr -     Barang Jadi (AC) -

            Tipe Bougenville

            (44/75 - AC)   5.265.140.640

………

Back to Content ↑

Laporan Laba Rugi Per 31 Desember 2018:

A. Pendapatan Operasional:

     Penjualan Rumah = Rp. 9.000.000.000

      

B. Harga Pokok Penjualan:

     1. Harga Pokok Produk:                 

          = Rp. 0

     2. Harga Pokok Standar:               

          = Rp. 5.635.011.920

     3. Beban Deviasi Tangguhan:       

          = Rp. 0

     4. Pendapatan Deviasi Tangguhan:                             

          = (Rp. 0)

                                                  

    Total Harga Pokok Penjualan:               

     = (Rp. 5.635.011.920)

                                                                  

    Total Laba Kotor:                                         

     = Rp.   3.364.988.080

………

Back to Content ↑

Laporan Laba Rugi Per 31 Maret 2019:

A. Pendapatan Operasional:

     - Penjualan Rumah = Rp.    24,710,000,000

      

B. Harga Pokok Penjualan:

     1. Harga Pokok Produk:                 

          = Rp. 9.321.738.480

     2. Harga Pokok Standar:             

          = Rp. 5.940.494.020

     3. Beban Deviasi Tangguhan:                                   

          = Rp.     164.565.800

     4. Pendapatan Deviasi Tangguhan:                                   

          = (Rp.   421.410.100)

                                                  

    Total Harga Pokok Penjualan:               

     = (Rp.    15,005,388,200)

                                                                  

    Total Laba Kotor:                                         

     = Rp.         9.704.611.800


Catatan:

#. Penjualan Berdasarkan Standard Cost Tahun 2019:


Penjualan Kredit Awal Januari (1 Unit):

Unit Azalea (69/84) = Rp. 700.000.000

Unit Bougenville (44/75) = Rp. 550.000.000

Unit Rose (42/72) = Rp. 480.000.000

Total Penjualan Kredit Rp. 1.730.000.000


Harga Pokok Standar:

Unit Azalea (69/84) = Rp. 412.000.984

Unit Bougenville (44/75) = Rp. 357.500.700

Unit Rose (42/72) = Rp. 330.870.980

Total Harga Pokok Standar = Rp. 1.100.372.660


Penjualan Tunai Awal Januari:

Tipe Azalea (69/84) =

Rp. 700.000.000 x 5 Unit = Rp. 3.500.000.000

Tipe Bougenville (44/75) =

Rp. 550.000.000 x 5 Unit = Rp. 2.750.000.000

Tipe Rose (42/72) =

Rp. 480.000.000 x 3 Unit = Rp. 1.480.000.000

Total Penjualan Tunai = Rp. 7.730.000.000


Harga Pokok Standar:

Unit Azalea (69/84) =

Rp. 412.000.984 x 5 Unit = Rp. 2.060.004.920

Unit Bougenville (44/75) =

Rp. 357.500.700 x 5 Unit = Rp. 1.787.503.500

Unit Rose (42/72) =

Rp. 330.870.980 x 3 Unit = Rp. 992.612.940

Total Harga Pokok Standar = Rp. 4.840.121.360


Beban Deviasi Tangguhan:

Unit Azalea (69/84) =

Rp. 4.013.800 x 11 Unit = Rp. 44.151.800

Unit Bougenville (44/75) =

Rp. 4.013.800 x 16 Unit = Rp. 64.220.800

Unit Rose (42/72) =

Rp. 4.013.800 x 14 Unit = Rp. 56.193.200

Total Beban Deviasi Tangguhan = Rp. 164.565.800


Pendapatan Deviasi Tangguhan:

Unit Azalea (69/84) =

Rp. 10.355.000 x 11 Unit = Rp. 113.905.000

Unit Bougenville (44/75) =

Rp. 10.505.124 x 16 Unit = Rp. 168.081.984

Unit Rose (42/72) =

Rp. 9.958.794 x 14 Unit = Rp. 139.423.116

Total Pendapatan Deviasi Tangguhan = 

Rp. 421.410.100


Penjualan Berdasarkan Actual Cost Tahun 2019:

Penjualan Tunai Awal Maret:

Tipe Azalea (69/84) =

Rp. 700.000.000 x 10 Unit = Rp. 7.000.000.000

Tipe Bougenville (44/75) =

Rp. 550.000.000 x 15 Unit = Rp. 8.250.000.000

Total Penjualan Tunai = Rp. 15,250,000,000


Harga Pokok Produk (COGS):

Tipe Azalea (69/84) =

Rp. 405.659.784 x 10 Unit = Rp. 4.056.597.840

Tipe Bougenville (44/75) =

Rp. 351.009.376 x 15 Unit = Rp. 5.265.140.640

Total Harga Pokok Produk (COGS) = Rp. 9.321.738.480


#. Artikel Terkait:

🏠 Kredit dan Aset Yang Diambil Alih (AYDA) - Kredit Sindikasi



#. Artikel Terbaru:

Posting Komentar

0 Komentar